Lomba Menulis Khusus Remaja #RebelWithACause

Standar

What’s up, Guys?

 Kamu pasti pernah atau bahkan sering merasa ruang gerak kamu serba dibatasi? Pengen hang out sama teman, eh ortu udah bikin seabrek jadwal les buat seminggu. Udah janjian nonton ama gebetan, eh malah dilarang karena filmnya horor dan yang maen bukan Raffi Ahmad. Dan banyak lagi hal lain yang membuat kamu jadi nggak bisa bergaul gara-gara dilarang ini itu, padahal kamu juga nggak pernah macem-macem di luar sana lho.

Nah, yang kayak gini kan lama2 bisa bikin kamu nggak nyaman dong dan pengen teriak, “I have life!” Tuh, rebel kan ujung-ujungnya?

Lomba ini dibuka buat kamu yang mengalami fase tersebut (based on your true story). So, let’s join us!

 Lomba ini khusus buat para remaja aja ya, usianya dibatasi antara 15-22 tahun. Silakan ceritakan kisah kamu dengan bahasa yang ringan dan teknik penulisan yang rapi. Ceritakan seperti apa kamu merasa dikekang oleh keluarga atau kalangan terdekat kamu, bisa jadi ada penyebabnya bisa juga tidak. Misal kalau ada: karena kamu selalu jadi juara kelas, maka kamu harusnya selalu belajar dan nggak usah buang waktu main sama teman-teman kamu.

 Ini saatnya kamu untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kamu, karena kamu pun pingin merasakan masa-masa remaja seperti yang teman-teman kamu rasakan. Tapi ingat, ini harus yang positif dan bermanfaat bagi kamu dan orang lain lho, bukan yang malah negatif.

 Ketentuan naskah:

1. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 kisah curhat

2. Berdasar kisah nyata kamu sendiri, untuk nama dan tempat boleh disamarkan

3. Cantumlah tanggal, bulan, dan tahun kelahiran kamu di dalam kisahmu

4. Lomba ini berlangsung selama bulan April 2014

5. Format naskah: ketebalan 5-7 halaman (biodata tidak dihitung), ukuran A4, Times New Roman size 12, spasi 2 (ganda), justified (rata kanan kiri), Word 2007/2010. Ketik judul naskah dan akun twitter kamu di halaman pertama sebelum isi tulisan. Sertakan nama asli, alamat lengkap, email, no. HP setelah isi tulisan.

6. Body email biarkan kosong

7. Judul file naskah: (akun twitter)+(judul tulisan). Contoh: @JonsonRocks + Help Gue Nggak Punya Teman!

8. Judul email: #RebelWithACause

9. Kirim tulisan kamu dalam bentuk attachment/sisipan file ke: rwacdivapress@gmail.com

10. Lama penjurian adalah 1 bulan

Setelah kirim naskah, silakan mention gini:

 I am … (isi dengan usia kamu sekarang) years old n I have life! Thanks: @divapress01 @de_teens @edi_akhiles, info lomba #RebelWithACause now check: blogdivapress.com

contoh:

 I am 19 years old n I have life! Thanks @divapress01 @de_teens @edi_akhiles, info lomba #RebelWithACause now check: blogdivapress.com

 Akan dipilih naskah-naskah terbaik untuk diterbitkan, dan masing-masing kontributor berhak mendapatkan 1 eksemplar buku sampel.

 Kita tunggu partisipasi kamu semua ya, Guys!

Iklan

I’ve loved you firstly

Standar

Kata orang, sahabat adalah jodoh yang tertunda. Mungkin aku tidak familiar dengan kata-kata itu tapi, aku pernah medengarnya darimu sendiri.

Kita sudah bersama sejak kita tak tahu apa makna cinta yang sebenarnya hingga aku mulai menyadari rasa yang berbeda itu hinggap di hatiku. Di saat itulah aku tahu apa itu cinta. Kamu mungin tidak percaya dengan apa yang aku rasakan ini. Kehadiran Bagas di sampingmu, membuatku cemburu. Membuatku ingin cepat-cepat menghilang ketika kamu mengundangku untuk jalan bersama.

Apa kamu tahu? Aku sudah lama mencintaimu, jauh sebelum kamu mengenal Bagas dan jauh sebelum Bagas jatuh cinta kepadamu. Tapi, kenapa Kamu tidak pernah tahu apa yang sudah aku rasakan selama ini?

Kamu masih ingat bagaimana basahnya tubuhku karena kehujanan untuk membelikanmu makanan? Aku melakukan semua itu karena aku menyadari kalau kamu bukan sekedar sahabat bagiku. Aku sugguh beruntung memiiki sahabat sepertimu dan aku juga beruntung jatuh cinta pada orang yang tepat sepertimu.

Namun, keberuntungan itu ternyata tidak selamanya ingin berdampingan dengan kita. Aku merasa sangat kehilangan ketika kamu memilih untuk menghabiskan waktu bersama Bagas daripada bersamaku. Aku cemburu bahkan lebih dari itu, aku mearasa seperti kehilangan separuh dari beleahan jiwaku meski kamu tidak pernah memahaminya.

Aku beruntung sekali mengenalmu jauh sebelum Bagas datang mengenalmu.

Aku beruntung jatuh cinta lebih dulu meski akhirnya Bagas yang justru lebih dulu memilikimu.

Tapi, aku merasa jauh lebih beruntung ketika aku melihatmu sebagai sahabatku bahagia dengan pilihan hatimu.

Maudy

Standar

Namanya Maudy, tiap kali aku mendatangi kafe bernuansa timur tengah ini, entah kenapa di hatiku ada debaran yang tidak bisa kuterjemahkan dengan mudah. Lesung pipitnya yang manis dan gigi kelincinya yang menggantung menggemaskan serta suara merdu yang kudengar tiap kali ia bersenandung di panggung mini kafe adalah sebagian kecil dari alas an aku mengaguminya..
Ia bukan perempuan yang cantik dan sempurna. Sederhana,  namun kesederhanaan itu yang menjebakku untuk terus-menerus memikirkannya. Seperti malam ini yang ku tak tahu entah kenapa debaran di hatiku semakin kuat – seperti keinginanku untuk menyatakan perasaanku padanya.

Entah dari mana kami memulai, aku tak tahu pasti kapan semua dimulai. Aku dan dia begitu dekat. aku juga suda lama menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaaanku. seperti malam ini, waktu yang tepat itu datang. Aku tidak tahu mengapa aku begitu percaya dengan ‘waktu yang tepat’, bukankah semua waktu adaah waktu yang tepat?

Maudy ia tidak pernah tahu, semenjak kepergianku untuk melanjutkan kuliahku di luar kota, aku masih setia dengan rasa yang aku punya. Setiap kali rindu itu menumpuk, aku hanya bisa mendengar suaranya lewat ponsel. Setiap kali keinginan untuk menemuinya kian mendesakku, aku hanya bisa melihat lini masa social medianya dan menyapanya lewat chat. Itu saja sudah cukup membuatku bahaga.

Malam ini aku tida tahu mengapa aku mendadak ingin menghindar dari momen yang sebenarnya aku inginkan ini. Aku benci setiap debaran yang muncul ketika dekat dengannya dan aku tahu kalau menyatakan apa yang sudah tersimpan di hati adalah cara terbaik untuk menghentikan debaran-debaran itu.

Aku menyimpan perasaan ini sudah cukup lama. Kafe ini menjadi tempat pertama kalinya aku jatuh hati kepada dia. Dan aku tidak pernah menyangka kalau tempat ini juga menjadi tempatku patah hati yang kesekian kalinya.

Aku terlambat untuk menyatakan perasaan yang sudah kupunya. Lagian, sepertinya Maudy tak mungkin membuka hati untuk pria yang cuma jatuh cinta diam-diam kepadanya. Dia sudah tidak sendirri lagi malam ini, pria berkacamata dengan hidung mancung itu menggenggam tangannya seraya bersenandug bersama di panggung kecil menghibur seseorang yang patah hati.

Seandainya keberanian itu datang lebih dini, mungkin tidak akan pernah ada kata terlambat.

EVENT NULIS #BERGURUPADATOKOHMUSLIM

Standar

Baca dulu ini ya.
ORANG KEREN PASTI BISA NAHAN DIRI!
By @edi_akhiles
“Tidaklah akan memuliakan wanita kecuali laki-laki mulia
dan tidaklah akan menghinakan wanita kecuali laki-laki hina”
(Ali bin Abi Thalib)
Pernahkah kamu menyaksikan seorang cowok (ya tua, ya muda) memarah-marahi wanitanya (bisa pasangannya atau keluarganya) di keramaian sebuah mal?
Nggak sedikit kita menjumpai pemandangan begitu kan. Atau, jangan-jangan, kita pula nih yang menjadi bagian dari pelakunya. Setidaknya, pernah melakukannya.
Please deh, Guys!
Nggak peduli berjenis kelamin wanita atau laki, semuanya sama manusianya. Sama punya perasaannya. Sama punya malunya. Pun semuanya sama punya peluang untuk melakukan kesalahan.
Bahwa orang lalu melakukan sebuah khilaf dalam hidupnya, ya wajar aja kan. Manusiawi. Mahallul khata’ wan nisyan. Tempatnya salah dan lupa. Bukankah yang terpenting dari sebuah kesalahan yang telah terjadi ialah bagaimana setiap kita mengambil pelajaran darinya untuk kebaikan di esok harinya?
Hemm, memarahi orang yang dianggap berbuat salah emang mudah banget. Bahkan, rasanya, enak banget. Lebih enak dari pizza kali.
Tapi, ingat deh, bahwa meskipun tujuan kita untuk memberikan peringatan atau nasihat mulia pada seseorang yang berbuat salah, sebutlah misal pasanganmu, kita harus memelihara nama baiknya. Martabatnya. Kemuliaannya.
Apa coba yang bakal menimpuk kepalanya saat kau memarahinya habis-habisan di depan orang lain? Di keramaian?
“Udah kubilang jangan beli itu, masih saja ngeyel! Telinga apa tanduk sih itu? Dasar bego!”
Uuhhh, bayangin deh kamu sendiri dihajar amarah seperti itu. Bayangin, bentar aja!
Sontak, tubuhmu seolah habis kan. Lenyap. Punah diterkam mata-mata orang ramai yang menatapmu sedemikian rupa.
No!
Jangan pernah lakukan itu. Tahan diri, tahan emosimu, sederas apa pun, lalu bicaralah dengan baik saat sikonnya udah tepat. Tempat dan waktunya udah pantas. Itu baru namanya lelaki mulia.
So, sebaliknya, jika kau nggak bisa menahan diri, mempermalukan wanitamu di depan orang lain, itu berarti sesungguhnya kau bukanlah laki-laki mulia. Iya, kau hina, Sob!
Simak aja tuh wejangan sahabat Rasulullah Saw., Ali bin Abi Thalib di atas tuh. Jelas kan? Kagak mungkin kan kau menyatakan dirimu mulia tapi kau demen menghinakan orang lain, termasuk wanitamu?
Nggak logis banget.
Itu emang baru satu contoh kasus lho ya. Masih seabrek jenis kejadian yang bisa kita jadikan ukuran apakah “kita ini mulia atau hina” berdasarkan nasihat Ali bin Abi Thalib tersebut.
Mari introspeksi, mikir-mikir, renungkan, dan paksain dirimu untuk menjadi bagian dari laki-laki mulia yang tercermin dari kata-kata dan sikap-sikapnya yang memuliakan wanitanya.
Oke, Guys?!
****
Yuk, yuk, mareeeee…..
Ikutin event menulis #BERGURUPADATOKOHMUSLIM ini. Itu di atas hanya sebuah contoh dari “karakter tulisan” yang kita inginkan ya. Jadi, perhatikan benar ya!
Tulisanmu harus mengandung unsur: (1) Mengutip kata-kata mutiara di awal tulisan dari tokoh-tokoh muslim terkemuka. Misal sahabat atau ulama terkenal salaf (bukan ustadz tivi, apalagi hasil kontes, ntar marah-marah lagi atau minta bayaran selangit #eh). (2) Mengandung nilai inspiratif buat pembacanya, (3) Disajikan dalam bentuk ringan ala remaja (boleh cerita atau narasi/analisa/paparan).
****
Kelak, naskah-naskah terpilih akan kami terbitkan dalam buku, didistribusikan se nusantara, dan namamu) akan dipajang di dalamnya. Syaratnya?
Syarat teknis:
1. Karakter naskah Islami (tidak harus mengutip ayat atau hadits pula sih). Tidak mengandung SARA.
2. Gunakan gaya bahasa yang ringan-ringan ala teen saja. Penyajian ringan tapi inspiratif jelas berpeluang besar untuk lolos.
3. Berlaku hanya dari tanggal 10 Maret 2014-10 April 2014.
4. 1 orang hanya boleh mengirim 1 tulisan. Tulisan diketik dengan font Times New Roman ukuran  12 pts spasi ganda (spasi 2), antara 2-3 halaman (sudah termasuk alamatmu). Kasih judul dan nama akun tweetermu (atau namamu) di bawah judul. Juga sertakan nama asli dan alamat lengkapmu di bagian akhir tulisanmu (ini penting untuk ngirim bukunya nanti kalau sudah terbit jika naskahmu lolos). Misal:
Yang Banyak Baiknya Pasti Banyak Sahabatnya
@iyunk-Myunk
5. Ukuran kertas A4 dengan page setup: 4 – 3 – 4 – 3  (kiri-kanan-atas-bawah).
6. Tulisanmu kirim ke email: berguru.divapress@gmail.com dengan subjek #BerguruPadaTokohMuslim.
7. Badan email dibiarkan kosong. File tulisanmu diattach.
8. Peserta diwajibkan LIKE fanpage Penerbit DIVA Press dan follow Twitter @divapress01
9. Buat status di wall FB kami dan tweet yang isinya “Asyik, saya nggak DL-er, udah ngirim tulisan #BerguruPadaTokohMuslim @divapress01 @edi_akhiles
Penjurian:
1. Penjurian akan dilakukan maksimal 30 hari setelah penerimaan naskah terakhir.
2. Juri akan memilih dan menerbitkan tulisan-tulisan yang layak terbit (memenuhi syarat teknis tersebut) dalam buku.
3. Seluruh peserta yang tulisannya diterbitkan akan mendapat sertifikat penghargaan + sampel buku terbitnya.
4. Semua naskah yang dikirimkan otomatis kami anggap bersetuju untuk diterbitkan dengan ketentuan tersebut.
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
6. Semoga yang lolos buku #BerguruPadaTokohMuslim ini, jika masih jomblo segera mendapatkan kekasih. Jika sudah pacaran, semoga segera dilamar. Jika sudah dilamar, semoga segera dinikahin. Jika sudah dinikahin, semoga segera dikarunia anak yang shalih/shalihah. O ya, nyaris lupa, jika sedang LDR-an, semoga segera disatukan di dunia nyata, bukan maya (doa tulus kami senantiasa tercurah untuk kalian).

Hujan Kemarin

Standar
Gambar

Download PDF version here

Aku merindukanmu lewat hujan yang menyapa, tetesan airnya meresap ke dalam jantung bumi seperti tiap kali rindu untukmu turun, seperti hujan kamu selalu kutunggu meski sebentar tapi membuatku tak cepat bosan. Kamu dan hujan seperti jodoh yang diturunkan Tuhan, namun tidak denganku.

Masih ingatkah kamu pada hujan kemarin? Tetesannya mengalir deras meresap ke dalam tiap pori-pori bumi. Ada juga yang menempel, hinggap di dedaunan dan bahkan mengembun di kaca jendela. Basah dan aroma hujan, itu kan yang kamu suka darinya? Karenamu aku juga bernasib sama, mengikutimu menikmati hujan. Alunan titik-titik airnya yang turun, berirama, terdengar menenangkan – sama seperti tiap kali aku mendengar suaramu.

Hujan kemarin, kamu meneleponku. Mengajakku berbicara panjang lebar tentang pelajaran di sekolah yang begitu menguras tenaga dan pikiran, tentang orang – orang populer di sekolah yang sering kamu ceritakan keburukannya dengan ciri khasmu yang humoris dan tentang idola dari Korea yang begitu sulit untuk aku ingat. Aku mendengarkan semuanya terkadang sesekali tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajah yang kamu gerakkan di tiap-tiap bagian ceritamu. Hujan yang basah dan mendingin begitu terasa sangat hangat oleh suaramu yang selalu aku rindukan.

Kamu tahu, dulu aku dan kamu bukanlah siapa-siapa, kita cuma teman sekelas dan tidak lebih dari itu bahkan aku jarang memperhatikanmu, gadis cerewet, manja dan suka membuat kehebohan di kelas. Tapi, semua berubah waktu aku dan kamu berada dalam satu kelompok drama Bahasa Inggris, aku diam-diam memperhatikanmu. Kamu ternyata lebih dari sekedar gadis biasa. Entahlah sejak kapan, aku mulai merindukan kemanjaanmu ketika memintaku mengantarmu pulang, kecerewatanmu yang menasihatiku untuk merawat diri karena aku terlalu cuek dengan penampilan – dan entah mengapa aku menurutimu – dan juga kehebohanmu yang membuatku rindu dan tidak lagi memboloskan diri. Ketika itu aku mulai tahu betapa berartinya dirimu untukku.

Aku ingat kali pertama kamu dan aku jalan berdua. Kedai ice cream di dekat tugu kota, menjadi tempat favorit kamu dan aku untuk menghabiskan waktu bersama menikmati ice cream dan live accoustic music. Aku juga masih ingat, apa yang kamu pesan tiap kali ke sana, ice cream mix vanila dan starwberry dengan taburan misis warna – warni di atasnya juga sepotong wafer cokelat kecil yang diselipkan di sampingnya. Dan dengan biasanya juga, aku membantumu mengusap ice cream yang menempel di bibirmu. Aku tidak tahu mengapa tiap kali seperti itu.

Hujan kemarin mengingatkan aku akan banyak hal yang sudah kita lewati bersama. Kebahagiaan ketika kamu berhasil lolos dalam pemilihan miss photogenic, meskipun hasilnya kamu bukanlah juara tapi aku ingat betapa heboh dan bahagianya kamu ketika memberitahuku di kelas yang membuat teman-teman lainnya juga ikutan gembira meski ada yang tidak tahu sebab akibatnya. Kesedihan juga kita lalu bersama ketika kita tahu kalau kucing persia yang kita beli dengan menabung harus mati begitu cepat karena kedinginan terkena hujan. Ah, hujan terkadang membuatku sedih jika mengenang ini. Itulah sebagian dari sekian banyak cerita yang pernah kita lalui bersama. Kamu tahu? Buatku, bersamamu adalah hal terindah di mana tawa, canda, tangis, bahagia dan sedih melebur menjadi satu dalam kenangan-kenangan yang tak terganti.

Bagiku, kamu itu tidak ubahnya seperti hujan kemarin. Biarpun turun cuma sebentar atau begitu lama dan deras, kamu kurindukan di hari ini bahkan selepas hujan itu usai. Seperti yang kamu suka dari hujan, aromanya sama sepertimu yang khas dan selalu aku mau tiap berjumpa denganmu..

Ketika hujan kemarin, kamu memberi jeda sejenak. Ketika kutanya mengapa, kamu tak menjawab dan membuatku ingin tahu. Kudengar suara gemerisik darimu – tanda kamu mulai mengangkat dan menggunakan ponselmu – lalu terdengar suaramu. Kamu tertawa kecil tiap kali aku memanggil namamu untuk merespon panggilanku. Kutanyakan apa yang terjadi, kamu cuma menjawab dengan kata rahasia lengkap dengan tawa dan candaanmu yang khas.

“Aku jadian, sengaja ga bilang biar jadi kejutan buat kamu, Jan.” kamu menjawab ketika aku mendesakmu.

Hujan kemarin, menjadi satu-satunya hujan terburuk bagiku. Manisnya semua yang sudah kita jalani terasa begitu hambar dan melenyap tanpa sisa oleh kabarmu yang mengejutkan itu. Kamu terus menceritakan sosok lelaki yang memilikimu itu begitu lengkap. Kamu bercerita mengapa bisa mencintaimu, sejak kapan kamu dengannya dekat dan betapa romantisnya dia ketika bilang cinta sama kamu. Aku mengucapkan selamat kepadamu, kuadegankan aku bahagia tertawa dan memintamu untuk mentraktirku karena jadian. Kamu tidak tahu, betapa pilunya hati yang kupunya ketika semua itu kamu ceritakan, makin memilukan tiap kau ceritakan dia dan dia. Dadaku sesak seolah tak mampu menerima beban yang seharusnya tidak kupercaya.

Hujan kemarin masih juga belum reda. Kamu memutuskan pembicaraan dan bilang mau menghubunginya. Kemarin kita berada di bawah hujan yang sama, sama-sama menikmati nada-nada, aroma, kebasahan dan dingin yang diciptakannya. Namun, pikiran kita tidak berada pada lajur yang sama. Kamu memikirkannya bersamaan dengan bahagia yang diciptakan. Sedangkan aku? Masih terdiam menikmati hujan mengenang kebersamaan denganmu.

End