Category Archives: Writing Tips

Ketika Kamu Jenuh Menulis

Standar

signoflove,letter,love,heart,potentialprojects-8d5d30b26e9a9b49d8dda382d37d24d6_h

Kali ini saya akan menulis tentang bagaimana perasaan saya ketika menghadapi kejenhan dalam menulis. Memang menjadi penulis itu nggak semudah yang kita pikirkan, punya ide, menulis, kirim ke penerbit dan diterbitkan. Masih ada banyak “perjalanan” panjang yang akan mewarnai prosesnya.

Kekakuan Dalam Menulis

Saya sudah hampir sekitar enam tahun tidak menulis novel. Hal itu terjadi karena niat dari dalam diri saya untuk meneruskan menulis novel itu masih sangat minim. Saya hanya hobi membuat outline dan deadline yang terlalu sering saya abaikan. Bahkan, saya pernah mengabaikannya hingga setahun kemudian tanpa hasil. Meski saya sudah melakukan riset untuk novel yang akan saya tulis. Saran saya adalah ketika kita sudah melakukan survei, membuat outline dan deadline ada baknya kita segera menuliskannya dalam bentuk cerita supaya ide yang kita pikirkan tidak terlalu lama di otak sehingga membuat kita susah untuk melanjutkannya. Latihlah dengan menulis apapun setiap hari untuk membuat tulisan kita tidak kaku.

Saat Jenuh Melanda

Ada kalanya ketika kita semangat untuk menulis namun kita merasa jenuh dengan apa yang kita tulis. Mulai dari adegan yang kurang, cerita yang nggak nyambung dari adegan pertama dan kedua hingga percakapan tokoh yang terkadang membuat kita mengerutkan dahi karena tidak adanya keinteraktifan dakam dialognya sehingga melenceng dari apa yang ingin kita tuliskan. Bahkan juga mungkin kita tidak tahu harus menuliskan adegan apalagi di tulisan yang kita tulis. Saya mengalami ini semalam, yang saya lakukan ialah saya terus menulis entahlah meski sepertinya hanya dialog saja yang saya tuliskan saya tetap menulis. Lalu, saya menambahkan beberapa adegan yang tisak saya pikirkan apa yang akan dilakukan tokohnya di adegan tersebut. Pokoknya saya tulis. Nekad, iya. Sebab, kegiatan yang saya lakukan adalah menulis bukan mengedit atau merevisi. Hal itu yang harus saya lakukan karena nantinya tulisan itu harus saya revisi dan diedit agar isinya lebih nyata dan hidup serta terhindar dari ketidaknyambungan antar kalimat, antardialog dan antaradegan.

Jauhi Hal YangMengganggu

Banyak hal yang membuat kita nggak mood untuk menulis. Entah itu karena faktor eksternal seperti lingkungan yang berisik dan tidak kondusif atau faktor internal dari dalam dri kita sendiri seperti malas, capek dan berbagai alasan tak masuk akal lainnya. Saya selalu mematikan musik di laptop ketika saya menulis. Bagi saya lagu yang diputar akan sangat menganggu saya untuk menulis. Saya juga suka mandi ketika malas itu datang, biasanya hal ini terjadi ketika saya menulis sepulang kuliah di sore hari dimana badan lagi capek btuh penyegaran. Dan, biasanya saya menulis dengan syarat tidak adanya pengamggu dan jauh dari kebisingan atau keramaian. Itu cara saya mendapatkan waktu dan cara yang tepat untuk menulis. Setiap penulis tidak memiliki gangguan yang sama. Jadi, mendengarkan musik sambil menulis mungkin bisa menjadi pilihan menyenangkan untuk sebagain penulis tapi untuk sebagian lainnya hal itu sangat mengganggu.

Itulah sedkit pengalaman yang bisa saya tuliskan di sini. Jika memiliki masukan dan saran yang menarik untuk tulisan ini, bisa dituliskan di kolom komentar.

Happy writing, huys!

 

Writing Tips : How to get inspiration on our writing?

Standar

This tips repost from here

Kamu mau menulis tapi belum dapet inspirasi? Atau sudah menulis tapi ingin referensi atau inspirasi lagi yang lebih banyak buat tulisan kamu? Well, semua penulis juga pasti ingin mengetahui hal ini, bukan hanya kamu saja. 🙂

Sebenarnya di alam semesta ini banyak sekali hal yang bisa dijadikan inspirasi. Misalnya saja film The Raid yang (mungkin) terinspirasi dari sebuah penyergapan. Film Korea Wedding Dress yang mungkin juga terinspirasi dari sebuah gaun pengantin, lalu mendapatkan sebuah cerita yang sangat cocok untuk diangkat. Bahkan beberapa tulisan saya, banyak terinspirasi dari hal-hal yang ada di sekeliling misalnya, cerpen Ayah, Selamat Ulang Tahun! yang terinspirasi ketika saya mengantar ibu dan melihat seorang penarik becak yang mengeluarkan dompet lusuhnya. Novel Sydney Love Story yang terinspirasi dari sebuah lagu Broken Vow.Intinya, cobalah sepeka mungkin terhadap apa yang ada di sekeliling kita. Bisa jadi, hal sepele akan menghasilkan sebuah kisah yang bisa kamu ceritakan pada orang lain.

Okay, it’s to me to shared the tips of this topic!

Pertama, untuk mendapatkan inspirasi cobalah untuk mencari inspirasi dari hobi selain menulis yang kamu sukai. Misal, renang, belanja, nonton, dan lain sebagainya. Dari sana, kamu akan banyak mendapatkan hal-hal yang bisa kamu angkat menjadi sebuah cerita, misalkan buat kamu yang punya hobi nongkrong di mall coba duduk beberapa lama di area public, dari sana mungkin kamu bisa mendpat inspirasi dari pasangan yang sedang belanja, kelompok orang yang seru-seruan, atau mungkin pasangan yang lagi pdkt. Banyak hal yang bisa dieksplor dari kejadian-kejadian tersebut. Bahkan cerpen Cinta Di Ujung Toilet yang pernah saya tulis terinspirasi dari coretan di dinding toilet sekolah. Sekarang coba perhatikan tempat berikut ini, inspirasi apa sih yang bisa kamu dapat dari tempat-tempat ini?

Perpustakaan

Cafe

 

Lapangan Futsal

Kedua, latihlah daya imajinasi kamu. Latihan yang rutin akan membuat imajinasimu bertambah banyak lagi. Coba imajinasikan lagu yang pernah kamu dengar, bayangkan seperti apa kejadian dari lagu yang kamu dengarkan, paham? Misal, kamu mendengarkan lagu patah hati, dari lirik-liriknya kamu imajinasikan misal si A awalnya diam-siam menyukai si B, lalu pdkt tapi, mereka terpisah karena si A kurang yakin dan memilih untuk mewujudkan mimpi dengan orang lain. Nah, dari sana nantinya akan muncul banyak konflik yang bisa kamu dapat, misal bagaimana cara si A menyatakan cinta pada si B, apa yang akan dilakukan si B saat ia tahu perasaan si B, muculnya si C yang menguji kesetiaan pasangan tersebut dan lain sebagainya. Atau, kamu bisa menonton film tapi kamu ubah alurnya misalnya sebuah kisah sepasang kekasih yang berakhir bahagia, lalu kamu ubah alur dengan imajinasi kamu. Dan ingat, boleh saja kami terinspirasi tapi jangan sampai menjiplak ya. 🙂

Ketiga, cobalah kamu inspirasikan hal-hal yang ada di sekeliling kamu. Misalnya, orangtua kamu, pacar, sahabat, teman ekskul, gebetan, atau hal lain yang bisa kamu temukan dengan mudah misalnya, parfum, botol air mineral, televisi, kucing, burung, kalung. Dari hal-hal yang saya sebutkan, kamu pasti akan mendapat banyka inspirasi, misalnya saya yang pernah terinspirasi dari sebuah perfum. Benda ini menginspirasi saya untuk menuliskan sebuah kisah seorang pemuda bernama Aldi yang jatuh cinta pada Kayla – seorang sales promotion girl sebuah parfum. Aldi yang baru saja putus dan bertemu Kayla, ia rela pergi ke outlet Kayla untuk menanyakan parfum dan membelinya, bahkan ia sampai memiliki banyak parfum hanya untuk bisa bertemu dengan Kayla. Tapi, apa yang terjadi? Setelah itu mereka melakukan pendekatan dan Aldi menyatakan cintanya namun, Kayla menolak karena ia telah dijodohkan orag lain. It’s simple story! Mungkin, banyak cerita yang berakhir demikian tapi, something different yang akan membuat cerita itu menjadi menarik untuk ditulis. Sekarang coba deh, cerita apa sih yang ingin kamu tulis dari hal-hal berikut ini?

Game Boy

Cup

Teddy Bear

 

Keempat, recycle the old story! Banyak hal yang bisa menginspirasi sebuah cerita, bahkan mungkin dari berbagai banyak cerita semua memiliki benang merah yang sama. Pernah kan membaca sebuah cerita yang ceritanya eh ini kok hampir sama ya sama cerita ini dan itu. Atau, cerita ala Romeo dan Juliet tapi, laku keras di pasaran. Well, it’s back to how we create the story to be newer. Coba deh buka cerita-cerita lawas atau klasik yang mungkin bisa kamu jadikan referensi. Misalnya saja, saya yang menulis sebuah cerita A Little White House yang terinpirasi dari sebuah kisah dari India, Taj Mahal dan I am not Cinderella yang terinspirasi dari dongeng Disney. Semua akan menjadi baru tergantung bagaimana kamu menuliskan kisah tersebuh menjadi kekinian dan tidak terkesan kuno atau out of date. Sekarang coba pikirkan inspirasi apa yang kamu dapat dari kisah Sleeping Beauty, Bandung Bondowoso, Malin Kundang, Peter Pan mungkin juga Doraemon?

Kelima, banyak penulis pemula yang jarang sekali menggunakan langkah kelima ini yaitu, kisah nyata. Sebenarnya, kisah nyata nggak melulu lho hal yang pernah kamu alami sendiri. Kisah nyata bisa saja pengalaman orang lain, kakak, teman, orangtua, temannya teman, bahkan saya beberapa kali terinspirasi dari kehidupan kisah selebritis. hehe. Cobalah mulai mencari kisah nyata yang mungkin bisa kamu angkat menjadi sebuah cerita, buat saya kisah nyata adalah cerita yang original dan tidak terkesan di buat-buat. Kenapa? Because the story created by God! Kamu tahu kan kisah Laskar Pelangi, Surat Kecil Untuk Tuhan, 5cm dan kisah nyata lainnya, mungkin kita menganggap cerita tersebut lumrah, biasa tapi, ada hal lain yang bisa kita dapat dari sebuah kisah nyata.

Keenam, coba lebih peka terhadap kejadian-kejadian yang sedang terjadi di sekitar kita. Sinetron yang lagi nge-in, lagu populer dari seorang musisi yang diputar di mana – mana, acara televisi yang dibicarakan sampai nggak ada habisnya, konser musik dan lain sebagainya. Cobalah gali inspirasi dari kejadian-kejadian tersebut, pasti akan sangat membantu sekali. Termasuk saya, yang terinpirasi menulis cerpen Gue Bela Bola yang dari acara perhelatan dunia, World Cup. Hasilnya? Tulisan saya banyak dibaca pada saat itu, mungkin feel of the world cup-nya sedang hangat-hangatnya dan kamu bisa numpang populer dari event tersebut. 🙂

Universe served the imaginations! Banyak hal yang bisa kita manfaatkan dari ini. Semoga kelima tips yang sudah saya membantu kalian semua untuk menambah imajinasi atau inspirasi dalam menulis. Sekarang, coba lihat benda apa yang ada di belakangmu? Mungkin bisa kamu tuliskan menjadi sebuah kisah yang manis. Happy writing! 🙂

Writing Tips : How To Begin A (catchy) Novel?

Standar
stock-photo-new-chapter-146340740

I owe this picture here

Hari ini saya akan membagikan beberapa tips untuk memulai menulis novel. Memang dalam menulis novel, hal yang pertama kali harus dilakukan adalah menulis. Tentu, semua orang tau hal itu. But, just some people know how to make a catchy novel on first words or 10 pages early. Caranya gampang. Berdasarkan pengalaman dan artikel yang saya baca, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk melakukan hal ini, memulai untuk menulis novel yang menarik pembaca.

Pertama, jauhi kebiasaan kepenulisan yang sama atau stereotype, dimana hampir semua penulis pemula atau penulis kebanyakan lakukan. Misalnya, untuk naskah genre teenlit. Selalu saja bab awal – lebih tepatnya kalimat pertama, dimulai dari bangun tidur, telat, buru-buru, jam weker berbunyi and anything else. Jika memang kita ingin membuat adegan seperti demikian mulai lah dengan hal yang baru, modifikasi. Misalnya nih, langsung aja ke adegan dihukum oleh guru gara-gara terlambat, nah ntar kita bisa jelasin tuh adegan kenapa bisa si tokoh terlambat. Jika bangun kesiangan adalah hal yang biasa dilakukan oleh penulis, try something new, misalnya ban motor bocor, macet atau ponsel ketinggalan sehingga membuat si tokoh balik lagi ke rumah dan membuatnya terlambat. Seperti itu. Misal,

 “Matahari sudah semakin tinggi, aku dan beberapa siswa lainnya masih berdiri di depan tiang bendera. Macet. Gara-gara jalanan macet aku harus dihukum hormat kepada bendera yang ada di hadapanku. Sebenarnya sih bukan hanya macet saja yang membuatku harus dihukum seperti hari ini. Tadi aku bangun hampir jam setengah tujuh. Nggak biasanya aku kesiangan, gara-gara aku harus begadang menyelesaikan tugas komputer semalaman.”

Kedua, mulailah kalimat pertama dengan sebuah aksi, tentunya dengan aksi yang tidak stereotype seperti yang saya tulis di atas. Misalkan nih bagaimana si tokoh mencari jalan keluar dari kemacetan saat akan berangkat ke tempat tujuan, cara si tokoh memaksa masuk ke sekolah ketika pintu gerbang sekolah sudah tertutup atau bisa juga dengan aksi bagaimana si tokoh gugup mengungkapkan perasaannya pada gebetan. Cobalah hal ini. Saya yakin pasti pembaca akan penasaran untuk mengetahui kelanjutan ceritanya, karena kita sudah memberikan aksi yang akan ditunggu oleh pembaca mengenai bagaimana si tokoh keluar dari masalahnya. Contoh,

“Pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Aku terlambat lagi hari ini. Aku dan beberapa teman yang lain langsung melangkahkan kaki menuju pagar tembok yang berada di samping sekolah. Sebuah kursi tak layak pakai, yang hanya bisa dipakai untuk menopang tubuh saat akan memanjat pagar, bertengger di sana. Kursi itu sudah biasa digunakan oleh siswa yang terlambat untuk memaksa masuk ke lingkungan sekolah, tak terkecuali siswa perempuan. Aku berusaha memanjat  tembok itu dengan susah payah. Salah satu temanku berada di atas, sengaja dia stand by di sana untuk membantu menarik badanku yang gemuk agar bisa menaiki pagar. Sementara yang lain, berusaha menopang tubuhku dan mendorongnya. Hingga aku bisa memanjat pagar setinggi 3,5 meter itu.”

Ketiga, di awal-awal kalimat atau bab pertama kita harus memperkuat tema kita. Buatlah pembaca penasaran dengan tema yang kita bawakan dalam tulisan kita. Misalkan kita membawakan tema cinta tak terucap. Cobalah di awal-awal kalimat atau bab pertama, explore bagaimana tema itu dalam suatu cerita. Misalkan nih, si tokoh selalu memperhatikan gebetan dari kejauhan, stalking akun media sosialnya, mengoleksi benda yang juga digemari gebetan, seperti itulah. Gunakan atau angkat tema-tema menarik yang bisa membuat pembaca penasaran dan mau melanjutkan untuk membaca hingga akhir. Contoh,

“Perempuan itu sudah hampir seminggu terakhir ini menjadi satu-satunya murid yang selalu datang lebih awal sebelum pukul setengah tujuh pagi, atau lebih tepatnya sebelum sebagaian besar siswa kelas XII tiba di sekolah. Ditangannya sudah tergenggam sepotong cokelat caramel yang biasa dibelinya setiap kali berangkat sekolah. Seperti biasanya pula, ia meletakkan cokelat itu dikolong meja paling depan dekat pintu masuk di kelas XII IPA 6. Tak lupa juga ia juga menuliskan kalimat “Have a nice day…”  pada kerta yang diselipkan bersama cokelat itu. Pria itu, ketua OSIS tempatnya bersekolah yang menjadi alasannya melakukan hal itu. Sejauh ini dia hanya memperhatikan pria itu dari kejauhan, tidak ada keberanian di dalam dirinya untuk mengungkapkan perasaannya.”

Keempat, kita bisa memulai dengan ketegangan atau perasaan yang dialami oleh sang tokoh. Hal ini dapat menarik perhatian pembaca untuk bertanya-tanya apa sih yang sebenarnya terjadi pada hal yang dialami oleh tokoh yang kita tuliskan. Kita bisa memulai dengan mendeskripsikan perasaan yang dialami oleh tokoh kala itu dan memberikan sedikit gambaran tentang suasana yang dihadapi. Misal,

“Raihan sudah hampir dua setengah jam mondar-mandir di depan ruang ICU. Hatinya begitu gelisah. Tangannya tidak bisa ia letakkan sejenak untuk mengurangi ketengan yang dialaminya. Mulutnya berwarna kehitaman efek rokok yang dihisapnya, tidak bisa diam. Ia tidak berhenti untuk terus berdoa. Smar-samar matanya mulai terlihat seperti pantulan air dari kejauhan. Ia menunduk, kepalanya bergetar seiring dengan tumpahnya air mata dari kedua matanya yang mulai sayu. Ia tidak tahu apakah setelah pintu ICU dibuka, ibunya masih bisa diselamatkan atau kenyataan buruk yang harus diterimanya.

Kelima, cobalah untuk menceritakan setting atau latar dimana tokoh kamu berada. Settting yang baik pasti akan memberikan imajinasi yang kuat bagi pembaca sehingga dengan begitu pembaca dapat memahami atau menggambarkan setting yang kita gambarkan. Misalkan kita membuka cerita dengan tokoh yang sedang berada di cafe, kita bisa menunjukkan bukan menceritakan bagaimana keadaan cafe yang sedang dikunjungi. Kita bisa menunjukkan makanan, minuman, interior, suasana dan lain sebagainya. Contohnya seperti ini,

“Musim dingin mulai turun. Aku berada di tengah keramaian kota New York. Orang-orang diluar sana terlihat begitu nyaman dengan jaket tebal yang digunakannya. Bunyi klakson mobil dan alunan musik dari toko-toko dan cafe yang berderet di sepanjang jalan menambah riuh suasana tengah kota kala itu. Aku meneduh secangkir susu mocca yang kupesan. Aku sengaja menggenggam permukaan cangkirnya yang hangat dengan tangan telanjangku. Cafe ini sibuk sekali melayani pengunjung. Beberapa pelayan sedang berlalu lalang menanyakan pesanan pengunjung dan sebagian lagi ada yang membereskan gelas dan piring dari meja. Suara merdu dari penyanyi cafe di sudut ruangan terdengar begitu nyaman di pendengaranku. Selain hal itu, interior klasik bernuansa Prancis yang diangkat sebagai tema bangunan ini adalah alasanku untuk menjadikannya sebagai tempat favorit bersama dia yang sudah lima tahun bersamaku.

Well, itulah kelima tips yang baru bisa saya bagikan di sini semoga bermanfaat ya. Tetap semangat untuk menulis dan jangan pernah berhenti untuk mengexplore bakat yang kita punya ya! Terus berkarya, terus belajar dan berlatih. Dunia menugggu karyamu yang paling terkenal.  Cheer!
^^

#SeninMenulis “The Tool of Writing” oleh Peter Clark #2

Standar

Dalam #SeninMenulis pekan lalu, kita sudah membahas #5 teknik menulis ala Peter Clark. Masih ingat apa saja kelima teknik itu?

#13. Show first and then tell –> Prinsip utama dlm menulis fiksi, tunjukkan dan baru katakan
#14. Pilihlah nama-nama yang unik sebagai karakter dalam ceritamu (Roy Peter)
#16. Tambahkan sesuatu yang ganjil dan menarik dalam ceritamu.
#21. Tambahkan kutipan dan dialog pada ceritamu.
#23. Taruh koin-koin emas di sepanjang alur ceritamu.Yok kita lanjut ke poin selanjutnya …

#28. Write cinemattically –> Tulislah, seperti engkau hendak membuat film tentang novelmu. #SeninMenulis
Ubahlah mesin ketik/laptopmu menjadi seperti kamera. Pilih dan gunakan kata-kata yang bisa menangkap gambar dan imajinasi
Daripada menulis “Gadis itu cantik”, coba tulislah “Gadis remaja dengan rambut indah tergerai itu punya lesung pipi yang paling indah.”
Gunakan kata-kata yang bisa menggambarkan detail, anggap kamu sedang memindahkan adegan film ke dalam barisan kata-kata.
Bayangkan seandainya kamu bisa “menonton” cerita yang sedang engkau baca. Seperti itulah caranya. Detail, deskriptif, dan dramatis!

(a) Pandangan udara : Seperti burung, penulis “melaporkan” cerita dari arah atas. Mengamati dunia ibarat dewa
Misal: Orang-orang miskin mengantre pengampunan di depan Capitol. Tubuh kecil dan ringkih mereka tersaruk, bak kawanan semut tak berdaya.

(b) Penulis mencari posisi yang dekat dengan cerita, ia “melaporkan” cerita seperti reporter yg sedang siaran langsung
Contoh: Kabut mengepul pekat. Hanya dlm hitungan detik, semuanya tertutup kabut. Anya bahkan tidak bisa memandang telapak tangannya sendiri.

(c) Close-up, penulis menyorot dengan detail terjadinya cerita atau apa yg dialami si tokoh, termasuk emosinya
Misal: Miranda tidak kuat lagi. Kedua tangannya mengepal. Matanya melotot tajam sementara wajahnya semakin memerah. Sebentar lagi ia meledak

(d) Extreme close up, posisi penulis dekat sekali dengan cerita/karakter sampai-sampai ketahuan detail-detail kecil yg jarang tampak.
Misal: Bintik-bintik coklat di bawah mata itu, ditambah dengan lima kerutan keriput di dahi dan sekitar mata, jelas menunjukkan usia tuanya

Silakan digunakan 4 teknik “menangkap” adegan tersebut saat kamu menulis. Divariasikan ya biar pembaca tidak jenuh :))

#30 Tulislah ending yang menutup cerita, menjawab sebagian besar pertanyaan yang muncul selama berjalannya cerita.

Dari kecil, kita belajar bahwa ada akhir untuk setiap cerita. Pangeran dan putri hidup bahagia selamanya. Si penjahat kalah. Dunia damai.
“Salah satu cara berlatih menulis ending yang baik adalah dengan membaca buku-buku dengan ending yang baik.” (Peter Clark)
Pembaca mungkin tidak selalu menginginkan “ending yg membahagiakan,” tetapi mereka pasti menginginkan “ending yg memuaskan.” (Peter Clark)

Berikut ini 5 teknik mengakhiri cerita ala Peter Clark
(a) Ending yang menutup siklus cerita. Di ending, pembaca diajak kembali ke awal kisah atau ke tokoh sentral cerita. Jadi ceritanya berputar

Contoh  –> Titanic kali ya? Ada flashback trus di ending ceritanya balik lagi ke awal.

(b) Ending yg ditarik ke belakang. Endingnya kembali ke bagian paling menarik/unik dari cerita. Ini jenis ending tak terduga dan mengezutkan. Ada yg bisa kasih contoh cerita dengan ending seperti ini? Yang endingnya “kok gitu sih?”

(c) Ending yang dibatasi waktu. Jadi, penulis secara kronologis sudah menciptakan waktu berlangsungnya cerita, dari waktu A ke waktu Z.  Sepertinya Kisah-kisah dari Narnia masuk di sini. Cerita tamat dengan “kiamatnya” Narnia. Contoh lain?

(d) Ending terbatasi ruang, ceritanya berakhir ketika cerita/tokoh sampai ke tempat yg dituju, tdk perduli cepat/lambat durasi perjalanannya. Perjalanan Frodo cs ke Mordor kayaknya cocok untuk jenis ending ini.

(e) Ending yang menjawab semua. Misteri terpecahkan, pertanyaan dijawab, rahasia dikuak, musuh dikalahkan, dan tujuan perjalanan tercapai. Ending ke-5 inilah yg paling disukai pembaca. Ingat, ending tidak wajib selalu bahagia. Yg terpenting ending tersebut memuaskan pembaca. nah untuk ending jenis ini, adakah yang bisa menyaingi kepiawaian Tante Rowling dengan seri Harry Potternya? Sepertinya banyak sekali. Kita hanya harus lebih banyak membaca.

Gimana cara membuat ending yang memuaskan? Bacalah kisah-kisah dengan ending yang memuaskan.

NOTE : Original posted here by Diva Press