Category Archives: Dream story

Berisi mengenai pahit manisnya pengalaman yang saya dapatkan ketika saya mencoba untuk meraih mimpi saya

Surat terbuka untukku di masa depan

Standar

Untuk aku di masa depan (yang selanjutnya menggunakan kata kamu),
Dari aku di masa kini…

Apa kabar kamu?
Mungkinkah kamu mengenalku? Ini aku dirimu di masa kini atau yang nantinya kamu baca surat ini adalah dirimu di masa lalu.
Kamu tahu?
Aku benar-benar penasaran dengan dirimu! Bagaimana tidak 1, 5 bahkan hampir 10 tahun aku menunggu kabarmu.
Seperti teman lama yang tak pernah jumpa, banyak hal yang ingin sekali aku tanyakan kepadamu.
Jangan tanya berapa jumlahnya, banyak, banyak!
Mulai dari bagaimana keadaanmu sekarang? Kerja di mana? Kemudian bagaimana dengan impianmu? Bagaimna masalah-masalah yang kamu hadapi? Bagaimana perasaanmu saat ini? Senang? Sedih? Bahkan bagaimana dengan calon pendampingmu? Atau mungkin sekarang, berapa sudah jumlah buah hati yang kamu miliki?
Hmm itu pertanyaan yang terlintas di pikiranku saat ini, sebenarnya banyak lagi pertanyaan yang ingin aku ajukan seperti dimana kamu tinggal sekarang? Bagaimana rumah yang kamu tempati saat ini? Ah sudahlah, biarkan kamu saja yang bercerita.
Sebenarnya, bukan mengenai bagaimana penasarannya diriku padamu yang melatar belakangi diriku menuliskan surat ini padamu. Tapi, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa dulu kamu meraih apa yang kamu miliki bukanlah hal yang mudah.
Aku menuliskan surat ini di saat-saat menunggu hari wisuda datang. Saat itu aku begitu galau, galau banget seperti orang dibui cuma bedanya aku masih bebas berkeliaran tapi, sama-sama hanya makan dan tidur saja sebagai aktivitas harian.
Apa kamu masih ingat saat itu? Saat-saat dimana masa-masa sulit kamu hadapi, ibu kamu, dua kakakmu dan kamu berjuang mati-matian untuk keluar dari masa sulit itu. Bagaimana sekarang? Sudahkah masa-masa itu berakhir?

Sungguh aku pun ingin sekali mendengarmu bercerita tentang semua hal yang kamu lalui. Tentang jatuhnya dirimu dan bangkitmu dari setiap kegagalan, keputusasaan dan dari ketidakpastian yang rasanya nihil untuk dicapai. Mungkin jika kamu berkenan bercerita padaku sudah berderai air mataku ini. Ah berlebihan rasanya. Tapi memang aku akui itu mungkin karena aku tahu betapa hebatnya dirimu saat ini.

Untukmu, aku menuliskan surat ini di saat kamu benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya terbebas dari segala tuntutan. Tuntutan untuk segera mendapatkan pekerjaan, tuntutan untuk sesegera mungkin membahagiakan orang yang kamu sayangi dan tuntutan untuk menuntaskan masalah besar yang sedang kamu hadapi. Aku yakin ketika kamu membaca surat ini, sekelibat flash back tentang masa itu hadir di benakmu, bukan?

Untuk kamu, aku sungguh merindukan dirimu. Rindu dengan masa-masa dimana kamu berjuang untuk meraih semua impian yang kamu miliki. Rindu dengan dukungan dari ayah, ibu, kakak-kakakmu, teman, sahabat dan juga orang-orang yang menyayangimu. Sungguh aku rindu, rindu dengan mereka, bagaimana mereka saat ini? Aku berharap kau menyisipkan cerita tentang mereka ketika membalas surat ini kelak.

Untukmu, surat ini kubuat sebagai suatu penanda bahwa apa yang kamu dapatkan saat ini bukan hal yang mudah.

Untukmu yang telah sukses di sana, sudikah kamu membalas suratku ini?

Malang, 30 Agustus 2015
Pukul 19:23 WIB
Di dalam sebuah kamar kost,
Remujung 22

Mimpi ke 4 : Gabung di Broadcasting Kampus (Gagal)

Standar

Hmmm sebenarnya untuk mimpi saya yang ke emapat ini kalau mau dibilang gagal sih nggak juga ya. Sebab, saya memang sengaja tidak bergabung karena kegiatan organisasi yang saya ikuti saja sudah cukup padat, mengikuti satu kegiatan saja sudah cukup bagi saya.

Saya tidak pernah tahu, mengapa di benak saya selalu saja menilai kalau menjadi penyiar radio itu keren banget, pintar dan memiliki karisma yang sangat tinggi. Mungkin itulah yang menjadi alasan saya ingin bergabung dengan teman-teman PLFM di kampus.

Namun, mengingat kegiatan saya yang terlampau padat – belum lagi tugas kuliah yang hampir tiap hari tidak ada liburnya – saya mengurungkan niat untuk bergabung. Selain saya memang ketinggalan informasi ketika proses recruitment-nya, saya memang berusaha untuk tidak menarik minat saya. Awalnya saya tertarik bergabung dengan PLFM ketika acara pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) kepada mahasiswa baru – dimana saat itu saya yang menjadi mahasiswa baru – menarik perhatian. Namun, seiring berjalannya waktu keinginan itu tidak saya realisasikan juga.

Namun, di tahun 2013 kemarin saya berkesempatan menikmati bagaimana rasanya siaran. Saat itu saya menjadi guest announcer dengan beberapa teman saya. Hanya beberapa saat saja sih tapi, seru dan membuat saya ingin menjadi penyiar – bukan sebagai pekerjaan utama tentunya.

Mimpi ke – 3 : Mata kuliah Akuntansi dapat A (Terwujud)

Standar

Jatuh, setelah mendapatkan nilai C+ di semester pertama membuat saya kesal. Kesal karena memang susah sekali waktu itu mendapat nilai B untuk mata kuliah ini. Selain karena memang dosennya yang…. agak susah memberikan nilai, usaha yang saya lakukan mungkin kurang maksimal. Meskipun ya saya sudah belajar semalaman ketika akan ujian, itu mungkin belum cukup mengingat basic saya yang dari jurusan IPA ketika SMA.

Waktu itu, saya akui saya memang benar-benar belum mengerti sepenuhnya tentang Akuntansi Dasar. Istilahnya dodol begitu bahasa sekarangnya. Tapi, bukan berarti karena saya dodol saya berhenti berusaha, justru saya semakin berusaha semaksimal mungkin yang bisa saya lakukan. Sulit memang, terlebih saat saya merasa apa yang saya lakukan tiada guna atau bahasa gaulnya, useless.

Namun, yang lalu memang harus berlalu tanpa perlu kita tengok lagi. Meninggalkan semester pertama yang kelam, saya mendapat keuntungan yang begitu besar di semester kedua ini. Terlebih untuk mewujudkan mimpi yang ke tiga saya ini. Ya, semester II benar-benar berbeda. Dosen yang mengajar begitu nyaman. Pengertian dan mudah memberikan atau menyampaikan materi sehingga tidak butuh waktu lama (bagi saya) untuk memahami materi yang dijelaskan, khsususnya mata kuliah Akuntansi.

Entah mengapa di semester II ini saya begitu tertarik dengan Akuntansi, mungkin gegara dosen yang mengajar juga enak sehingga membuat saya senang. Di hampir setiap kali pertemuan untuk mata kuliah ini, saya selalu berusaha menjadi terdepan. Hasilnya? Saya mendapatkan nilai A di akhir semester dengan usaha mengerjakan tugas secepat mungkin agar bisa mendapat nilai tambahan.

Mimpi ke-2 : IP setiap semseter di atas 3,50 (Gagal)

Standar

Mempertahankan jauh lebih susah daripada meningkatkan atau memperbaiki. Setidaknya itulah yang saya alami beberapa tahu terakhir ini. Saya masih ingat bagimana menggebu-gebunya saya untuk mendapatkan nilai yang sangat tinggi untuk semester II. Namun, waktu terus berjalan hingga dua semester kemarin memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi saya.

Nilai saya turun. Entahlah saya tidak tahu harus berkomentar apa terhadap nilai yang saya dapatkan kala itu. Ada faktor-faktor yang menyebabkan saya bisa mendapatkan nilai buruk itu, pertama karena di semester III dan IV saya tidak serius dalam belajar, tidak bersemangat dan kurang tertarik mengikuti mata kuliah di kampus. Selain karena memang dosennya yang mengajar kurang begitu nyaman bagi saya, saya juga terpengaruh teman-teman untuk bermalas-malasan, nelat dan jadi copier pekerjaan teman. Tapi, aku tidak bisa mengkambinghitamkan mereka, karena bagaimanapun juga itu semua kembali ke diri saya.

Kedua, saya sering kali bolos kuliah hanya karena deadline untuk mengerjakan naskah yang akan saya terbitkan secara indie. Saya sering memilih alpha atau beralasan lain untuk mengahabiskan waktu di kostan  dan menyelesaikan project saya tersebut. Hmmm memang saya akui hal ini cukup menganggu kegiatan saya sebagai seorang mahasiswa. Tapi, hal ini tidak akan terjadi sih kalau seandainya saya lebih disiplin dan bisa mengatur waktu.

Dan yang terakhir adalah masalah keanggotaan saya di organisasi jurusan. Saya akui di semester II dan III ini kegiatan organisasi yang saya ikuti lumayan menyibukkan dan sangat padat. Saya ingat bagaimana saya harus bekerja ketika teman-teman saya mempercayakan saya menghandle kompetisi Speech Contest yang diadakan di reginal Jawa Timur dan Bali. Saya juga masih ingat perjuangan saya melawan sakit dan serak, hingga setelah acara itu selesai saya harus istirahat total.

Namun, bagaimanapun sebuah perjalanan hidup, semua harus dihadapi, mau pahit, manis, hambar bahkan mematikan sekalipun. Kita akan merasa benar-benar hidup jika bisa belajar dari apa yang kita alami – yang biasa kita sebut sebagai pengalaman.

Kegagalan bukanlah akhir dari apapun, masih banyak peluang sukses yang ada di depan mata, jika kita percaya pada mimpi dan usaha yang kita punya.

Mimpi ke-1 : IP Semester II di atas 3,50 (Terwujud)

Standar

Saya tidak pernah menyangka bahwa mimpi saya yang pertama ini terwujud dengan begitu cepatnya. Mendapatkan IP di atas 3,50 bukanlah hal yang gampang, nilai IP saya yang jelek di semseter pertama, menjadi alasan menjadikan hal ini goal utama saya – terutama di dalam wishing list saya.

Saya masih ingat betapa bersemangatnya saya ketika itu, memperbaiki sitem belajar, lebih giat lagi mengerjakan tugas, mahir mengatur waktu hingga saya mengerjakan apa-apa dari dosen selesai jauh-jauh hari dari deadline. Begitulah semangat saya waktu itu.

Waktu itu, saya juga masih ingat bagaimana usaha saya meningkatka nilai saya di semester pertama. Saya mulai berusaha lebih serius lagi ketika jam kuliah berlangsung, duduk di bagian paling depan supaya tidak terganggu dengan teman yang lain dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal.

Saya sangat bersyukur sekali atas apa yang saya capai. Di akhir semester- ketika liburan waktu itu – saya mendapat pesan dari teman-teman di ponsel, isinya tentang nilai IP semster II. Sekilas, saya hanya melihat nilai saya, toh biasa saja mungkin ada yang lebih besar dari nilai saya, pikir saya waktu itu. Hingga akhirnya, tak lama berselang salah satu teman saya mengirim pesan kepada saya mengucapkan selamat atas apa yang saya dapatkan.

Memiliki nilai tertinggi di kelas. Mimpi, mimpi banget itu bagi saya. Bagaimana tidak, mendapatkan IP di atas 3,50 saya sudah sangat bersyukur sekali apalagi ini saya mendapat nilai lebih dari itu – dan tertinggi pula di kelas – yaitu, 3,82. Ini benar-benar di luar dugaan saya.

Alhamdulillah, ini adalah mimpi pertama saya yang pertama kali terwujud. Saya sangat berharap akan banyak sekali mimpi-mimpi yang saya impikan terwujud satu per satu. Bismillah.