Category Archives: Daily Story

Berisi tentang kisah-kisah yang saya alami sehari-hari mengenai apapun yang sedang saya alami di dalam kehidupan sehari-hari saya

Time Changed

Standar

Kita, mungkin duduk bersebelahan adalah hal yang wajar
Ceritamu menjadi bagian dari cerita kehidupan diriku
Pun, denganmu.
Kita pernah merasa bahagia seakan tidak ada lagi manusia yang bisa dijadikan sandaran, kecuali kamu.
Aku pun juga merasa memori dari setiap lini kenangan yang kita tanam suatu hari kelak akan kita tunai.
Aku pun harus mengakui, kamu adalah yang berarti, sangat berarti.
Terkadang aku berharap tentang apa-apa padamu, pun sebaliknya.
Akan tetapi, aku tahu manusia bukanlah tempat berharap.
Manusia lebih sering mengecewakan daripada melapangkan.
Manusia tidak mau ditinggalkan, meski banyak dengan mudah meninggalkan.
Kamu, iya kamu yang dulu ada di hari-hari ini kian memudar.
Tidak ada lagi cerita kamu dan aku.
Dirimu perlahan memudar dari keseharianku.
Disibukkan dengan yang lain.
Yang lebih membahagiakanmu dan bahagia yang melebihkanmu.
Sapa riang itu tak lagi ada tiap kali berpapasan denganmu.
Aku seolah melihat kamu yang lain, kamu yang baru, kamu yang tak aku kenal.
Aku bersyukur bisa membantumu untuk menjadi lebih tinggi.
Tapi, aku merasa bersalah, karena tinggimu itu membuatmu tak mau untuk turun.
Untuk sesekali melihatku, menengak dan menanyakan keberadaan dan keadaanku.
Mungkin, saat ini sudah tak lagi sama.
Aku punya cerita baru, pun dengan dirimu.
Biarlah sakit yang mungkin aku rasakan ini aku simpan sendiri.
Biarlah menjadi penyakit.
Asal tidak sampai menyakiti dirimu.

Iklan

Surat terbuka untukku di masa depan

Standar

Untuk aku di masa depan (yang selanjutnya menggunakan kata kamu),
Dari aku di masa kini…

Apa kabar kamu?
Mungkinkah kamu mengenalku? Ini aku dirimu di masa kini atau yang nantinya kamu baca surat ini adalah dirimu di masa lalu.
Kamu tahu?
Aku benar-benar penasaran dengan dirimu! Bagaimana tidak 1, 5 bahkan hampir 10 tahun aku menunggu kabarmu.
Seperti teman lama yang tak pernah jumpa, banyak hal yang ingin sekali aku tanyakan kepadamu.
Jangan tanya berapa jumlahnya, banyak, banyak!
Mulai dari bagaimana keadaanmu sekarang? Kerja di mana? Kemudian bagaimana dengan impianmu? Bagaimna masalah-masalah yang kamu hadapi? Bagaimana perasaanmu saat ini? Senang? Sedih? Bahkan bagaimana dengan calon pendampingmu? Atau mungkin sekarang, berapa sudah jumlah buah hati yang kamu miliki?
Hmm itu pertanyaan yang terlintas di pikiranku saat ini, sebenarnya banyak lagi pertanyaan yang ingin aku ajukan seperti dimana kamu tinggal sekarang? Bagaimana rumah yang kamu tempati saat ini? Ah sudahlah, biarkan kamu saja yang bercerita.
Sebenarnya, bukan mengenai bagaimana penasarannya diriku padamu yang melatar belakangi diriku menuliskan surat ini padamu. Tapi, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa dulu kamu meraih apa yang kamu miliki bukanlah hal yang mudah.
Aku menuliskan surat ini di saat-saat menunggu hari wisuda datang. Saat itu aku begitu galau, galau banget seperti orang dibui cuma bedanya aku masih bebas berkeliaran tapi, sama-sama hanya makan dan tidur saja sebagai aktivitas harian.
Apa kamu masih ingat saat itu? Saat-saat dimana masa-masa sulit kamu hadapi, ibu kamu, dua kakakmu dan kamu berjuang mati-matian untuk keluar dari masa sulit itu. Bagaimana sekarang? Sudahkah masa-masa itu berakhir?

Sungguh aku pun ingin sekali mendengarmu bercerita tentang semua hal yang kamu lalui. Tentang jatuhnya dirimu dan bangkitmu dari setiap kegagalan, keputusasaan dan dari ketidakpastian yang rasanya nihil untuk dicapai. Mungkin jika kamu berkenan bercerita padaku sudah berderai air mataku ini. Ah berlebihan rasanya. Tapi memang aku akui itu mungkin karena aku tahu betapa hebatnya dirimu saat ini.

Untukmu, aku menuliskan surat ini di saat kamu benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya terbebas dari segala tuntutan. Tuntutan untuk segera mendapatkan pekerjaan, tuntutan untuk sesegera mungkin membahagiakan orang yang kamu sayangi dan tuntutan untuk menuntaskan masalah besar yang sedang kamu hadapi. Aku yakin ketika kamu membaca surat ini, sekelibat flash back tentang masa itu hadir di benakmu, bukan?

Untuk kamu, aku sungguh merindukan dirimu. Rindu dengan masa-masa dimana kamu berjuang untuk meraih semua impian yang kamu miliki. Rindu dengan dukungan dari ayah, ibu, kakak-kakakmu, teman, sahabat dan juga orang-orang yang menyayangimu. Sungguh aku rindu, rindu dengan mereka, bagaimana mereka saat ini? Aku berharap kau menyisipkan cerita tentang mereka ketika membalas surat ini kelak.

Untukmu, surat ini kubuat sebagai suatu penanda bahwa apa yang kamu dapatkan saat ini bukan hal yang mudah.

Untukmu yang telah sukses di sana, sudikah kamu membalas suratku ini?

Malang, 30 Agustus 2015
Pukul 19:23 WIB
Di dalam sebuah kamar kost,
Remujung 22

Curahan Hati Tentang Ayah

Standar

Ayah. Bagi saya ia adalah sosok yang luar biasa dalam hidup saya. Sejak kecil saya terbiasa dengan Ayah saya, lebih tepatnya saya dekat dengannya dibandingkan dengan kedua kakak saya. Saya masih ingat bagaimana hangatnya pelukannya. Keras namun nyamannya bahunya yang bidang. Dia begitu berarti bagi hidup saya, sangat.

Dulu, saya sangat dimanja. Apa-apa hampir semuanya dituruti. Minta ini dan itu, terutama minta majalah Bobo yang waktu itu sangat saya sukai! Mungkin sejak kecil itulah saya tanpa disadari suka membaca. Di antara kedua kaka saya, saya yang paling pintar merajuk Ayah. Biasanya, tiap kali selesai ulangan umum, Ayah membawa saya dan kedua kakak saya ke rental kaset CD untuk kami tonton sebagai refreshing. Biasanya juga, saya yang selalu menagih Ayah untuk membawa kami ke rental, tentunya dengan suruhan kedua kakak saya.

Ayah, dia seorang yang keras, terlihat dari bagaimana ia bekerja. Dulu, hampir tiap pagi saya selalu menemaninya, mencabuti rumput liar di halaman depan bahkan juga rela menungguinya ketika sore saat ia sedang mengelola sawah yang kita miliki. Sungguh indah sekali moment itu. Bukan hanya itu, Ayah juga seorang penyayang, sangat penyayang. Saya dan kedua kakak saya tidak pernah merasa kehilangan rasa sayang itu. Ia mengerti bagaimana caranya menjadi Ayah yang baik. Membawakan kami makanan hangat sepulang dari kantor – meski ia sendiri kehujanan, membawa kami ke pasar malam bertiga, dan tak luput pula memberi kami award  jika salah satu dari kami memiliki prestasi. Bahkan sekarang ini, tiap kali saya pulang ke rumah, Ayah selalu menunjukkan rasa cintanya dengan cara tidak langsung, menyelimuti saya yang terbiasa tidur tanpa selimut bahkan bebera kali saya melihat Ayah memperhatikan saya saat tidur dan saya berpura-pura tidak terbangun. Manis.

Aku bersyukur bisa menjadi anak yang membanggakan baginya, sejak kecil apa-apa saya selalu dengan Ayah. Walau dimanja, saya bukan berarti tumbuh sebagai anak manja yang tidak bisa bebuat apa-apa. Buktinya, ketika saya duduk di bangku SD, saya banyak mengikuti perlombaan, menggambar, murid teladan, lomba cerdas cermat dan lain sebagainya. Dan itulah yang saya lakukan, yang sekarang saya sadari mampu membanggakan Ayah saya.

Kalau di kilas balik, rasanya saya tidak ingin cepat-cepat menjadi dewasa seperti saat ini. Ingin rasanya berlama-lama berada di masa kecil itu. Saya masih ingat bagaimana buru-burunya Ayah pulang dari kantor menjemput kami untuk menonton carnaval tahunan di kota kami, seniat itu. Menjemput kami pulang mengaji dengan membawakan payung ketika hujan turun. Dan… masih banyak lagi kesan terindah yang Ayah torehkan di dalam kehidupan saya.

Saya, tidak bisa mengingkari diri sendiri dan berusaha untuk menampik. Saya terkadang sering merasa rindu dan bahkan terkadang menangis mengingat semua keindahan itu. Semua itu cepat berlalu, cepat dan sangat cepat.

Tumbuhnya saya menjadi dewasa tidak mengurangi perhatiannya kepada saya. Meski kini saya tidak seakrab ketika saya masih kecil, saya masih merasakan bahwa kasih sayang Ayah itu masih lekat berada di sisi kami. Kedekatan kami memang sedikit berkurang menjelang saya duduk di bangku SMP. Bukan permasalahan yang besar yang membuat saya menjaga jarak dengn Ayah, bukan. Waktu itu guru tempat saya mengaji menyuruh sebagian besar murid untuk berbicara menggunakan bahasa yang sopan, istilahnya kalau dalam bahasa jawa ialah bahasa krama. Hal itu yang membuat kami menjadi agak menjauh, padahal sebelumnya kami begitu dekat. Ya, masalah sepele tersebut yang memiliki dampak besar bagi kami, hingga sekarang.

Namun di sisi lain, Ayah adalah orang yang keras kepala. Terkadang masalah sepele menjadi masalah yan sangat besar, besar sekali. Masalah yang bisa diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari satu detik – mungkin – bisa menjadi masalah berkepanjangan, berhari-hari. Bukan hanya itu, setiap anggota keluarga sudah tahu kalau apapun kemauan Ayah, tidak akan pernah bisa merubahnya, kecuali hati kecilnya yang berkata lain. Begitu.

Itulah istimewanya Ayah saya. Ayah yang menyimpan kharismanya tersendiri. Begitu.

Ada keinginan yang sangat saya ingin lakukan, meski hingga kini hal itu begitu sulit untuk saya lakukan. Memeluknya. Ya, saya ingin sekali memeluknya seperti bagaimana dulu saya memluknya saat terlelap tidur di tubuhnya. Saya sangat berharap saya bisa melakukan hal itu. :’)

 

-AD

Good News On Monday

Standar

Siang ini saya sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas sebagai salah satu mahasiswa di perguruan tinggi negeri di kota sejuk, Malang. Hari ini selain mencoba mengerjakan tugas tersebut, saya juga iseng-iseng membenahi blog wordpress saya ini. Lumayan menyenangkan karena saya baru tahu kalau wordpress ini memiliki fitur-fitur yang sangat menarik dan sangat mudah untuk digunakan oleh saya sebagai penulis dan blogger pemula.

Well, hal yang ingin saya bagikan hari ini adalah tentang naskah saya yang lolos dalam event yang saya ikuti sekitar sebulan yang lalu. Event yang saya ikuti adalah lomba menulis cerpen dalam rangka hari jadi sebuah Self Publishing ternama di Indonesia, Leutika Prio. Adapun naskah yang diminta adalah mengenai passion di dunia literasi, khususnya sebagai penulis.

Dalam event yang sama dengan jenis lomba yang berbeda, saya juga ikut berpartisipasi untuk menyemarakkan acara tersebut. Lomba tersebut adalah lomba menulis puisi dengan tema Undeclared Love. Saya mengirim beberapa puisi untuk event ini karena memang ketentuannya boleh lebih dari satu naskah dan paling banyak 13 naskah. Di antaranya adalah sebagai berikut ; Tentang SesuatuCinta Dalam Hati, Rasa Yang Bernama Cinta, Cinta Tak Terlihat dan Cinta Diam – Diam

Pengumuman event yang kedua tanggal 31 Desember 2013 kemarin, saya sengaja memasang reminder di ponsel untuk melihat pengumamn siapa saja peserta yang lolos di sana. Awalnya saya begitu yakin kalau naskah saya akan bisa masuk ek babak selanjutnya, Namun, ternyata tidak ada nama saya tertera di salah satu peserta yang lolos. Kecewa. Iya. Hal itu wajar mengingat saya antusias dengan lomba ini tetapi, memang saya akui mungkin naskah mereka jauh lebih baik dari milik saya. Saya akui. Dan hal ini adalah kali pertama saya mengikuti event semacam ini.

Kemarin, saya sempat meminta penjelasan kepada admin penerbit tersebut, kapan pengumuman naskah cerpen itu akan diumumkan. Mengingat adanya beberapa kendala sehingga hal itu membuat pengumuman diundur hingga tiga kali.

Hari ini rasa pensaran itu terjawab sudah ketika melihat recent update dari note milik Leutika Prio tertera di halaman depan. Saya berusaha membaca pengumuman tersebut dengan setengah hati. Mengingat gagal di jenis lomba yang sudah diumumkan, saya tidak terlalu banyak berharap karena memang saya akui mungkin naskah saya masih kurang. Tapi, nyatanya saya salah ada nama saya di sana beserta judul cerpen yang saya kirimkan, kurang lebih beginilah isi note dari Leutika Prio :

Pemenang Cerpen Ultah Leutika Prio

Dear all Leutikans, kami mohon maaf karena pengumuman pemenang lomba menulis cerpen yang diadakan dalam rangka ulang tahun LeutikaPrio yang ke-3 baru kami postinghari ini. Berikut ini adalah para pemenang lomba menulis cerpen tersebut.

 

Dua pemenang utama yang berhak mendapatkan paket penerbitan dari LeutikaPrio adalah:

 

  1. Ulin Nurviana dengan judul cerpen “Give Me A Reason”
  2. Arinda Shafa dengan judul cerpen “Meretas Mimpi, Kesandung Bu RT”

 

Sedangkan 11 pemenang lain yang berhak mendapatkan voucher penerbitan senilai Rp 200.000,- adalah:

 

  1. Aditya GA dengan judul cerpen “Senja Pulang di Sudut Patimura”
  2. Anindita dengan judul cerpen “Pulang”
  3. Arif Darmawan dengan judul cerpen “Broken Vow”
  4. Dang Aji dengan judul cerpen “Dari Satu Hujan ke Hujan Lainnya”
  5. E. Andaryani dengan judul cerpen “Setapak Jejak Siwi”
  6. Ika Agustiani dengan judul cerpen “Hello My Ex”
  7. Indah Novita Dewi dengan judul cerpen “Kasih Tak Sampai”
  8. Jaqueleto dengan judul cerpen “Wish Note”
  9. Puji Rahayu Ningsih dengan judul cerpen “Hitamnya Besi dan Kilaunya Emas”
  10. Titi Nurmala Kekenusa dengan judul cerpen “Impian Terbesar”
  11. Wulandari Setyaningum dengan judul cerpen “Linguistik”

 

Setiap pemenang berhak mendapatkan piagam elektronik dari LeutikaPrio. Selain itu, 13 karya terbaik tersebut akan diterbitkan dalam bentuk antologi di LeutikaPrio. 

Begitulah isi dari note tersebut. Hal ini mungkin adalah hal yang biasa bagi sebagian orang, terlebih bagi mereka yang sudah memiliki jam terbang tinggi mengikuti event kepenulisan dan mungkin sekarang menjadi penulis hebat. Tapi, bagi saya ini adalah hal yang sangat membanggakan karena jujr ini adalah kali pertama saya mengikuti event kepenulisan seperti ini, mengingat tahun-tahun sebelumnya saya hanya membaca info tanpa mengikuti beberapa event yang ditawarkan.

Doa saya, semoga hal ini menjadi langkah awal bagi saya untuk membuka kesuksesan saya di bidang kepenulisan. Saya yang terkadang mudah putus asa dengan apa yang saya lakukan di bidang saya, kembali termotivasi untuk ikut dalam event-event yang ada. Semoga ini menjadi latihan kecil bagi saya untuk menjadi penulis yang berpengalaman. Semoga.

AD