Category Archives: Puisi

Berisi mengenai puisi atau pun prosa yang saya bagikan kepada teman-teman yang mengunjungi blog saya ini

Biru Langit

Standar

Ini bukanlah tentang kisah cinta.
Antara aku dan kamu nyata adanya.
Saling mengagumi satu sama lain tapi takut akan luka yang sama.
Saling memendam rindu tapi malu pada sekat-sekat rasa yang memisahkan.
Kamu pernah bilang, biru langit itu indah.
Sayangnya, aku tak seperti kamu yang terus-terusan tertegun memandanginya.
Biru langit tak sebiru kala itu.
Kala kamu menatapku diam-diam.
Kala aku bicara pada hati dalam hening.
Kamu dan aku tak senyata yang kubayangkan.
Kehadirannya.
Menyadarkan bahwa rasa yang pernah kita miliki tidak pernah nyata.

Waktu aku sama kamu

Standar

 

Waktu aku sama kamu
Banyak hal yang sudah aku dan kamu lewati
Kamu sederhana dan itu justru yang membuatku terkesima
Kamu biasa dan itu yang menjadikan perasaanku ke kamu jadi nggak biasa

Waktu aku sama kamu
Aku ngerasa punya teman hidup yang cocok
Aku sama kamu kayak berada pada takdir yang sama
Aku ngerasa nyaman ngomong sama kamu
Bahkan terkadang aku ngerasa kamu lebih dewasa dan bijak daripada aku

Waktu aku sama kamu
Aku mesti berdoa setelahnya biar kamu diketemukan lagi sama aku
Biar kamu semakin merasa enak dengan aku
Biar kamu nggak pernah pergi jauh – jauh dari aku

Waktu aku sama kamu
Aku merasa kamu seperti memang dipertemukan sama aku
Dimataku kamu orang biasa yang memberi aku kenyamanan
Tempat berbagi dan bercerita yang membuatku hangat

Sekarang, Waktu kamu jauh sama aku
Ku nggak tahu kenapa suka mikirin kamu
Nggak tahu juga suka liat kamu diam-diam dari jauh
Dan berharap kedekatan waktu aku sama kamu dulu terulang lagi

Waktu aku sama kamu
Itu yang pengen aku ulang . . .

Hari Ulang Tahunmu

Standar
stock-photo-happy-birthday-100486003

I owe this picture here

Tidak perlu bertanya hari apa hari ini

Akupun tahu, siapa yang akan mendapat banyak ucapan selamat panjang umur hari ini

Yang akan mendapat kejutan yang mengenang di hari bahagia ini

Dan, yang mendapat doa-doa kebahagian

Kamu, kini yang bertambah usia

Tak perlu tanyakan mengapa aku masih mengingatnya hingga kini

Bahkan, mungkin kamu sudah melupakan bagaimana aku tahu hari bahagiamu ini

Aku yang dulu diam-diam mengagumimu tanpa batas

Tanpa ada garis yang mengharuskanku untuk berhenti jatuh hati padamu

Dan, tanpa ada alasan untuk tidak menyelipkan pesonamu di sini, di hati

Kamu, dulu menjadi malam-malamku

Ingatkah bagaimana pesan itu tiap menit mampir di pesan masuk ponselmu?

Ingat bagaimana kamu penasaran dengan mengapa aku tahu semua tentangmu?

Masih ingat juga kan bagaimana aku bersikap lain padamu?

Salah tingkah dan tak mampu berlama-lama memandangmu

Bahkan selalu berdesir darah ini tiap kamu melewati jarang dihadapanku

Itulah kamu dengan berjuta cerita yang kini hingga kusimpan

Persis seperti bagaimana karang-karang laut menyimpan kenangan tentang biru, ombak dan semua keindahan

Itulah kamu, cinta pertama yang pernah mampir di depan asmara ini

Bukan untuk mendiami bahkan menghuni

Jangankan mengetuk pintu hati, menoleh saja kamupun tak pernah

Malam

Standar

I own this picture here

Masih ingatkah kamu?

Pendar cahaya lampu di lilitan jalanan kota yang kita lalui?

Suara bising kendaraan yang lalu lalang di antara riuhnya suasana malam?

Hembusan angin yang begitu sering mengurai rambutmu?

Ah, seandainya malam itu bisa kuperpanjang.

Malam, menjadi saksi nyata atas keberadaan hubungan kita

Suaramu dibalik telepon yang tiap malam menyelinap di pendengaranku,

Wangi parfum yang biasa kamu taburkan dibeberapa bagian di gaun yang kamu pakai,

Dan lengkungan senyum bibir tipismu yang merona, tiap malam, tiap kali kita kencan.

Namun, kini hal itu tidak lagi aku rasakan,

Semua seperti seolah menghilang, seperti malam yang harus tertelan fajar

Malamku, bukan lagi malam-malam yang mempunyai arti tersendiri

Biasa, sebiasa kamu meninggalkanku dibalik kerinduan

Tahukah kamu?

Saat ini aku masih mengharap ada namamu tertera di layar ponsel, memanggilku

Memintaku untuk menyesap segelas kopi susu hangat, bersama

Alunan musik, suara merdu penyanyi cafe dan romantisnya lirik lagu yang dinyanyikan

Genggaman tanganmu yang tak kalah hangatnya dengan hati yang dulu pernah kamu beri untukku,

Kini, bagaimana malammu di sana?

Masihkah kamu memandang langit seperti yang biasa kamu lakukan tiap kali meneleponku?

Sulitkah bagimu untuk terleleap, seperti biasa yang kamu alami setiap kali kita kencan di bukit bintang?

Seandainya saja kamu tahu,

Kepergianmu demi dia, masih aku sesalkan,

Seperti sesal yang tiap kali datang saat kamu tak lagi melihat bintang di malam hari

Di Balik Dinding SMA

Standar

Apa kabar kamu?
Sudah lama tak kudengar kabar darimu sedikitpun.
Adakah memori tentang aku, kamu, kita, yang masih kamu simpan hingga kini.
Aku tidak menyangka, malam ini adalah malam merinduku kepadamu.
Aku mendadak terbawa pada suasana yang telah lalu, yang ingin kurasakan lagi.
Masa dimana yang katanya orang hanya sekali seumur hidup.

Aku ingin tahu kabarmu.
Gerbang sekolah yang biasa jadi tongkrongan ketika menunggu jemputan.
Baunya asap rokok di belakang kelas.
Semua masih kental kuingat di sini.

Apa kabar si kantin?
Tempat nongkrong paling gaul buat ngomongin siswa lain di meja sebelah.
Tempat curhat masalah cinta, teman dan terkadang keluarga.
Menjadi sarang bagi kita yang sedang bolos mata pelajaran.

Lalu, bagaimana kabar si guru baik?
Yang memudahkan kita mendapat nilai bagus saat ujian.
Dan si guru jahat, yang suka menyita sepatu sneakers yang kita pakai, celana dan rok yang terlalu ketat juga memotong kuku bercat dan rambut berantakan.

SMA, tahukah kamu?
Aku merindu sekali kepadamu.
Banyak kenangan bahagia, sedih dan kecewa yang mungkin hanya kudapat darimu.
Aku ingin mengulang saat-saat mencontek tugas si pintar.
Saat mendebarkan ketika si ketat menjaga ujian.
Juga, pembicaraan khas yang hanya kita tahu.

Lalu, apa kabar SMA?
Untuk kamu yang dulu pelit memberi contekan.
Dia yang kadang bicara di belakangku.
Mereka yang pandai membuat suasana menjadi hangat.
Kalian yang sering ngobrol hal ga penting tapi berarti.
Dan untuk kau, yang diam diam aku sayangi.

Di balik dinding SMA, ada banyak cerita yang ingin kuulang.
Terima kasih semuanya yang tersayang.
Di sini kita bicara cinta, sahabat, keluarga, affair dan masa depan.

Ah seandainya tahu, aku sungguh sungguh sangat merindu.

 

This is posted also here