Category Archives: Flash Fiction

Berisi mengenai cerita-cerita pendek yang tidak lebih dari 500 kata mengenai apapun yang ada di pikiran saya seperti cinta, kehidupan, mimpi, persahabatan, keluarga dan lain sebagainya

I’ve loved you firstly

Standar

Kata orang, sahabat adalah jodoh yang tertunda. Mungkin aku tidak familiar dengan kata-kata itu tapi, aku pernah medengarnya darimu sendiri.

Kita sudah bersama sejak kita tak tahu apa makna cinta yang sebenarnya hingga aku mulai menyadari rasa yang berbeda itu hinggap di hatiku. Di saat itulah aku tahu apa itu cinta. Kamu mungin tidak percaya dengan apa yang aku rasakan ini. Kehadiran Bagas di sampingmu, membuatku cemburu. Membuatku ingin cepat-cepat menghilang ketika kamu mengundangku untuk jalan bersama.

Apa kamu tahu? Aku sudah lama mencintaimu, jauh sebelum kamu mengenal Bagas dan jauh sebelum Bagas jatuh cinta kepadamu. Tapi, kenapa Kamu tidak pernah tahu apa yang sudah aku rasakan selama ini?

Kamu masih ingat bagaimana basahnya tubuhku karena kehujanan untuk membelikanmu makanan? Aku melakukan semua itu karena aku menyadari kalau kamu bukan sekedar sahabat bagiku. Aku sugguh beruntung memiiki sahabat sepertimu dan aku juga beruntung jatuh cinta pada orang yang tepat sepertimu.

Namun, keberuntungan itu ternyata tidak selamanya ingin berdampingan dengan kita. Aku merasa sangat kehilangan ketika kamu memilih untuk menghabiskan waktu bersama Bagas daripada bersamaku. Aku cemburu bahkan lebih dari itu, aku mearasa seperti kehilangan separuh dari beleahan jiwaku meski kamu tidak pernah memahaminya.

Aku beruntung sekali mengenalmu jauh sebelum Bagas datang mengenalmu.

Aku beruntung jatuh cinta lebih dulu meski akhirnya Bagas yang justru lebih dulu memilikimu.

Tapi, aku merasa jauh lebih beruntung ketika aku melihatmu sebagai sahabatku bahagia dengan pilihan hatimu.

Iklan

Maudy

Standar

Namanya Maudy, tiap kali aku mendatangi kafe bernuansa timur tengah ini, entah kenapa di hatiku ada debaran yang tidak bisa kuterjemahkan dengan mudah. Lesung pipitnya yang manis dan gigi kelincinya yang menggantung menggemaskan serta suara merdu yang kudengar tiap kali ia bersenandung di panggung mini kafe adalah sebagian kecil dari alas an aku mengaguminya..
Ia bukan perempuan yang cantik dan sempurna. Sederhana,  namun kesederhanaan itu yang menjebakku untuk terus-menerus memikirkannya. Seperti malam ini yang ku tak tahu entah kenapa debaran di hatiku semakin kuat – seperti keinginanku untuk menyatakan perasaanku padanya.

Entah dari mana kami memulai, aku tak tahu pasti kapan semua dimulai. Aku dan dia begitu dekat. aku juga suda lama menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaaanku. seperti malam ini, waktu yang tepat itu datang. Aku tidak tahu mengapa aku begitu percaya dengan ‘waktu yang tepat’, bukankah semua waktu adaah waktu yang tepat?

Maudy ia tidak pernah tahu, semenjak kepergianku untuk melanjutkan kuliahku di luar kota, aku masih setia dengan rasa yang aku punya. Setiap kali rindu itu menumpuk, aku hanya bisa mendengar suaranya lewat ponsel. Setiap kali keinginan untuk menemuinya kian mendesakku, aku hanya bisa melihat lini masa social medianya dan menyapanya lewat chat. Itu saja sudah cukup membuatku bahaga.

Malam ini aku tida tahu mengapa aku mendadak ingin menghindar dari momen yang sebenarnya aku inginkan ini. Aku benci setiap debaran yang muncul ketika dekat dengannya dan aku tahu kalau menyatakan apa yang sudah tersimpan di hati adalah cara terbaik untuk menghentikan debaran-debaran itu.

Aku menyimpan perasaan ini sudah cukup lama. Kafe ini menjadi tempat pertama kalinya aku jatuh hati kepada dia. Dan aku tidak pernah menyangka kalau tempat ini juga menjadi tempatku patah hati yang kesekian kalinya.

Aku terlambat untuk menyatakan perasaan yang sudah kupunya. Lagian, sepertinya Maudy tak mungkin membuka hati untuk pria yang cuma jatuh cinta diam-diam kepadanya. Dia sudah tidak sendirri lagi malam ini, pria berkacamata dengan hidung mancung itu menggenggam tangannya seraya bersenandug bersama di panggung kecil menghibur seseorang yang patah hati.

Seandainya keberanian itu datang lebih dini, mungkin tidak akan pernah ada kata terlambat.

Hujan Kemarin

Standar
Gambar

Download PDF version here

Aku merindukanmu lewat hujan yang menyapa, tetesan airnya meresap ke dalam jantung bumi seperti tiap kali rindu untukmu turun, seperti hujan kamu selalu kutunggu meski sebentar tapi membuatku tak cepat bosan. Kamu dan hujan seperti jodoh yang diturunkan Tuhan, namun tidak denganku.

Masih ingatkah kamu pada hujan kemarin? Tetesannya mengalir deras meresap ke dalam tiap pori-pori bumi. Ada juga yang menempel, hinggap di dedaunan dan bahkan mengembun di kaca jendela. Basah dan aroma hujan, itu kan yang kamu suka darinya? Karenamu aku juga bernasib sama, mengikutimu menikmati hujan. Alunan titik-titik airnya yang turun, berirama, terdengar menenangkan – sama seperti tiap kali aku mendengar suaramu.

Hujan kemarin, kamu meneleponku. Mengajakku berbicara panjang lebar tentang pelajaran di sekolah yang begitu menguras tenaga dan pikiran, tentang orang – orang populer di sekolah yang sering kamu ceritakan keburukannya dengan ciri khasmu yang humoris dan tentang idola dari Korea yang begitu sulit untuk aku ingat. Aku mendengarkan semuanya terkadang sesekali tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajah yang kamu gerakkan di tiap-tiap bagian ceritamu. Hujan yang basah dan mendingin begitu terasa sangat hangat oleh suaramu yang selalu aku rindukan.

Kamu tahu, dulu aku dan kamu bukanlah siapa-siapa, kita cuma teman sekelas dan tidak lebih dari itu bahkan aku jarang memperhatikanmu, gadis cerewet, manja dan suka membuat kehebohan di kelas. Tapi, semua berubah waktu aku dan kamu berada dalam satu kelompok drama Bahasa Inggris, aku diam-diam memperhatikanmu. Kamu ternyata lebih dari sekedar gadis biasa. Entahlah sejak kapan, aku mulai merindukan kemanjaanmu ketika memintaku mengantarmu pulang, kecerewatanmu yang menasihatiku untuk merawat diri karena aku terlalu cuek dengan penampilan – dan entah mengapa aku menurutimu – dan juga kehebohanmu yang membuatku rindu dan tidak lagi memboloskan diri. Ketika itu aku mulai tahu betapa berartinya dirimu untukku.

Aku ingat kali pertama kamu dan aku jalan berdua. Kedai ice cream di dekat tugu kota, menjadi tempat favorit kamu dan aku untuk menghabiskan waktu bersama menikmati ice cream dan live accoustic music. Aku juga masih ingat, apa yang kamu pesan tiap kali ke sana, ice cream mix vanila dan starwberry dengan taburan misis warna – warni di atasnya juga sepotong wafer cokelat kecil yang diselipkan di sampingnya. Dan dengan biasanya juga, aku membantumu mengusap ice cream yang menempel di bibirmu. Aku tidak tahu mengapa tiap kali seperti itu.

Hujan kemarin mengingatkan aku akan banyak hal yang sudah kita lewati bersama. Kebahagiaan ketika kamu berhasil lolos dalam pemilihan miss photogenic, meskipun hasilnya kamu bukanlah juara tapi aku ingat betapa heboh dan bahagianya kamu ketika memberitahuku di kelas yang membuat teman-teman lainnya juga ikutan gembira meski ada yang tidak tahu sebab akibatnya. Kesedihan juga kita lalu bersama ketika kita tahu kalau kucing persia yang kita beli dengan menabung harus mati begitu cepat karena kedinginan terkena hujan. Ah, hujan terkadang membuatku sedih jika mengenang ini. Itulah sebagian dari sekian banyak cerita yang pernah kita lalui bersama. Kamu tahu? Buatku, bersamamu adalah hal terindah di mana tawa, canda, tangis, bahagia dan sedih melebur menjadi satu dalam kenangan-kenangan yang tak terganti.

Bagiku, kamu itu tidak ubahnya seperti hujan kemarin. Biarpun turun cuma sebentar atau begitu lama dan deras, kamu kurindukan di hari ini bahkan selepas hujan itu usai. Seperti yang kamu suka dari hujan, aromanya sama sepertimu yang khas dan selalu aku mau tiap berjumpa denganmu..

Ketika hujan kemarin, kamu memberi jeda sejenak. Ketika kutanya mengapa, kamu tak menjawab dan membuatku ingin tahu. Kudengar suara gemerisik darimu – tanda kamu mulai mengangkat dan menggunakan ponselmu – lalu terdengar suaramu. Kamu tertawa kecil tiap kali aku memanggil namamu untuk merespon panggilanku. Kutanyakan apa yang terjadi, kamu cuma menjawab dengan kata rahasia lengkap dengan tawa dan candaanmu yang khas.

“Aku jadian, sengaja ga bilang biar jadi kejutan buat kamu, Jan.” kamu menjawab ketika aku mendesakmu.

Hujan kemarin, menjadi satu-satunya hujan terburuk bagiku. Manisnya semua yang sudah kita jalani terasa begitu hambar dan melenyap tanpa sisa oleh kabarmu yang mengejutkan itu. Kamu terus menceritakan sosok lelaki yang memilikimu itu begitu lengkap. Kamu bercerita mengapa bisa mencintaimu, sejak kapan kamu dengannya dekat dan betapa romantisnya dia ketika bilang cinta sama kamu. Aku mengucapkan selamat kepadamu, kuadegankan aku bahagia tertawa dan memintamu untuk mentraktirku karena jadian. Kamu tidak tahu, betapa pilunya hati yang kupunya ketika semua itu kamu ceritakan, makin memilukan tiap kau ceritakan dia dan dia. Dadaku sesak seolah tak mampu menerima beban yang seharusnya tidak kupercaya.

Hujan kemarin masih juga belum reda. Kamu memutuskan pembicaraan dan bilang mau menghubunginya. Kemarin kita berada di bawah hujan yang sama, sama-sama menikmati nada-nada, aroma, kebasahan dan dingin yang diciptakannya. Namun, pikiran kita tidak berada pada lajur yang sama. Kamu memikirkannya bersamaan dengan bahagia yang diciptakan. Sedangkan aku? Masih terdiam menikmati hujan mengenang kebersamaan denganmu.

End

Flash Fiction : Cinta Tiga Sisi

Standar

 

l

Aku menatap sebuah foto yang diambil ketika berlibur di sebuah taman bermain di Melbourne. Andrew di sampingku, ia tersenyum lebar sambil merangkul Hana. Sedangkan Hana, ia menyipitkan matanya sambil menempelkan kepalanya di bahu Raka. Sebuah memori indah yang masih tersimpan di dalam foto tersebut. Kami bertiga bersahabat sejak pertama duduk di bangku kuliah. Andrew yang terobsesi menjadi musisi, Hana yang menyukai dunia modelling dan saya yang sibuk dengan bisnis cafe keluarga, kami bertiga saling mengerti satu sama lain. Namun, semua berubah ketika Hana dan Andrew menjalin hubungan yang tidak aku ketahui sebelumnya. Hatiku tergores bahkan, goresan itu menganga hingga kini.

Andrew, ia diam tanpa mengeluarkan kata apapun. Membiarkan keheningan masuk di celah pertemuan aku dengan Andrew. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kilauan lampu kapal feri yang melintas di sungai Paramatta, tepat di hadapan kami, menambah ngilu rasa sakit yang masih aku rasakan.
“Hana, she’s my decision.” ucap Andrew memecah kesunyian. “I know it will be a hurt decision for you but, please let me begin my life again with her.”
Aku menatap wajah Andrew, matanya tajam, ia bersungguh-sungguh mengatakan itu padaku, “Long time, before you choose Hana to be yours. I choose you to be mine, and you to.” jawabku sambil menahan dada yang makin sesak, “Now, you choose the love after me. Did you know? I still hope that we can getting back anymore”
“Raka, hentikan semua ini! Jangan berusaha meneruskan apa yang bukan menjadi jalanmu!”
“Jalanku? Ini jalan kita, Ndrew! Bahkan, kamu yang memulai semua dan hanya menyebut ini jalanku saja? Karena Hana, iya?” cecarku.
“Maafin aku, aku hanya mencari jalan yang semestinya. Bukan dengan kamu tapi, Hana.”
“Apa yang kamu mau minta dari dia? Aku bisa memberimu apa yang kamu mau,”
“Aku ingin berumah tangga dengannya. Dan itu tidak mungkin bisa kamu berikan kepadaku”,
Hatiku sesak. Aku terdiam mencerna apa yang Andrew katakan. Rumah tangga? Mungkin memang aku tidak bisa membangun rumah tangga dengannya. Tak ada lagi kata yang bisa aku keluarkan. Bibirku kelu.
“Besok, aku akan melangsungkan pertunangan dengan Hana. Aku mengundang kamu sebagai sahabat”,
“Aku ga akan datang”,
“Kenapa?”
“Kamu gila! Dengan hadirnya aku, kamu hanya menambah hati ini sakit!”
“Raka, please datang untuk terakhir kali ini saja. Demi persahabatan kita-“, pinta Andrew sambil menggenggam tanganku. “Dan untuk perpisahan kita,” tambahnya.
Aku menunduk menatap mata Andrew yang masih saja bersinar dan mempesona seperti kali pertama kulihat. Aku kembali terdiam.
Aku tidak tahu mengapa harus ada aku di antara Andrew dan Hana. Atau, ada Hana di antara aku dan Andrew. Cinta tiga sisi, hal yang sama sekali tidak kuingini. Andrew telah memilih Hana sebagai sisinya untuk berpijak. Sedangkan aku, berada pada sisi yang berat dan terluka.
Malam ini, terakhir kalinya aku dan Andrew menikmati jembatan Sydney Harbour dari kejauhan, tempat pertama kali kami menjalin hubungan. Dan, malam ini rasa hangat itu menjalar keseluruh tubuh. Lembab. Rasa yang sama seperti saat kali pertama aku mendapatkannya. Ciuman Andrew, menandakan akhir dari kisah kami yang tak sempurna.

Flash Fiction : Hakikat Cinta

Standar

 

Membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku merupakan sesuatu yang salah. Aku memiliki cinta yang bisa membenarkannya. Tak peduli seberapa banyak orang tidak menginginkan hal ini terjadi kepadaku. Aku mencintainya tanpa mengharap sesuatu di atas selain cinta yang sama. Begitulah hakikat cinta yang seharusnya orang ketahui.
Om Hans belum juga sadar, pria berumur tiga puluh tujuh tahun itu terbaring lemah. Luka yang membiru di bagian tubuhnya membuat aku semakin sadar bahwa cinta kami semakin kuat.
“Gue ga ngelarang loe buat pacaran sama Oom Hans, Mel. Dia baik tapi, apa loe mau liat Oom Hans menderita?” ucap Kikan memecah sunyi ruang opname. “Oom Hans udah terlalu berbuat banyak buat loe”,
“Gue tahu, gue sayang sama dia, Ki. Gue ga akan ninggalin Oom Hans, meski keluarga gue ngejauhin gue.” jawabku dengan suara parau seraya menggenggam tangan Oom Hans erat.
“Ki, sebagai sahabat gue selalu dukung apa yang jadi pilihan loe”. Kikan mendekat dan meletakkan tangannya di kedua bahuku, “Tapi, cara loe mendapatkan Oom Hans, itu yang salah. Orang tua loe, istri Oom Hans dan keluarganya, mereka yang jadi korban dari hubungan kalian”,
“Terus apa yang mesti gue lakuin? Semua sudah terlambat, bahkan untuk memulai yang baru saja-”
“Mel, mencintai orang yang loe sayang tidak hanya dengan memilikinya. Membiarkan ia bahagia dengan orang lain, itu jauh lebih berharga, Mel”.
Aku tidak bisa memungkiri, pria yang berada di depanku ia berhasil menarikku dalam kehidupannya. Awalnya, aku tidak ingin semua ini terjalin begitu saja. Aku mencintai Oom Hans hanya karena perhatian yang tidak kudapat dari orangtuaku. Dan Oom Hans memilihku, ia hanya menjadikan aku sebagai pelarian dari pernikahannya yang gagal. Baik aku maupun Oom Hans, kami tidak lagi memandang latar belakang yang menyatukan kami tapi, ada hal yang lebih indah dari itu, cinta.
Lama, tak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua, hanya suara bunyi detak jantung yang menjadi nada pengusir sunyi. Kikan kembali sibuk dengan ponselnya dan aku masih sama, menatap oom Hans dan menggenggam tangannya.
Mendadak, denyut detak jantung Om Hans cepat. Om Hans membuka mata sambil menahan sesak di dadanya. Aku menekan tombol memanggil perawat untuk datang ke ruangan. Tak lama berselang, sebelum perawat itu datang, garis vertikal pada alat pendeteksi detak jantung terlihat sangat jelas. Tubuh Oom Hans tak bergerak.
Aku tak berhasil menahan air mata. Aku mencium tangan Oom Hans. Ia telah pergi meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan berbicara untuk terakhir kalinya.
Kikan merangkulku ketika perawat datang memeriksa dan menyatakan bahwa aku harus menerima jalan yang tak seharusnya kumau.
Oom Hans meninggal. Ia hanya menyisakan cinta di relung hati tanpa memintanya kembali. Membiarkan rasa yang diberinya kepadaku bersemaya di lubuk jiwa. Selamanya.