Monthly Archives: Agustus 2015

Surat terbuka untukku di masa depan

Standar

Untuk aku di masa depan (yang selanjutnya menggunakan kata kamu),
Dari aku di masa kini…

Apa kabar kamu?
Mungkinkah kamu mengenalku? Ini aku dirimu di masa kini atau yang nantinya kamu baca surat ini adalah dirimu di masa lalu.
Kamu tahu?
Aku benar-benar penasaran dengan dirimu! Bagaimana tidak 1, 5 bahkan hampir 10 tahun aku menunggu kabarmu.
Seperti teman lama yang tak pernah jumpa, banyak hal yang ingin sekali aku tanyakan kepadamu.
Jangan tanya berapa jumlahnya, banyak, banyak!
Mulai dari bagaimana keadaanmu sekarang? Kerja di mana? Kemudian bagaimana dengan impianmu? Bagaimna masalah-masalah yang kamu hadapi? Bagaimana perasaanmu saat ini? Senang? Sedih? Bahkan bagaimana dengan calon pendampingmu? Atau mungkin sekarang, berapa sudah jumlah buah hati yang kamu miliki?
Hmm itu pertanyaan yang terlintas di pikiranku saat ini, sebenarnya banyak lagi pertanyaan yang ingin aku ajukan seperti dimana kamu tinggal sekarang? Bagaimana rumah yang kamu tempati saat ini? Ah sudahlah, biarkan kamu saja yang bercerita.
Sebenarnya, bukan mengenai bagaimana penasarannya diriku padamu yang melatar belakangi diriku menuliskan surat ini padamu. Tapi, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa dulu kamu meraih apa yang kamu miliki bukanlah hal yang mudah.
Aku menuliskan surat ini di saat-saat menunggu hari wisuda datang. Saat itu aku begitu galau, galau banget seperti orang dibui cuma bedanya aku masih bebas berkeliaran tapi, sama-sama hanya makan dan tidur saja sebagai aktivitas harian.
Apa kamu masih ingat saat itu? Saat-saat dimana masa-masa sulit kamu hadapi, ibu kamu, dua kakakmu dan kamu berjuang mati-matian untuk keluar dari masa sulit itu. Bagaimana sekarang? Sudahkah masa-masa itu berakhir?

Sungguh aku pun ingin sekali mendengarmu bercerita tentang semua hal yang kamu lalui. Tentang jatuhnya dirimu dan bangkitmu dari setiap kegagalan, keputusasaan dan dari ketidakpastian yang rasanya nihil untuk dicapai. Mungkin jika kamu berkenan bercerita padaku sudah berderai air mataku ini. Ah berlebihan rasanya. Tapi memang aku akui itu mungkin karena aku tahu betapa hebatnya dirimu saat ini.

Untukmu, aku menuliskan surat ini di saat kamu benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya terbebas dari segala tuntutan. Tuntutan untuk segera mendapatkan pekerjaan, tuntutan untuk sesegera mungkin membahagiakan orang yang kamu sayangi dan tuntutan untuk menuntaskan masalah besar yang sedang kamu hadapi. Aku yakin ketika kamu membaca surat ini, sekelibat flash back tentang masa itu hadir di benakmu, bukan?

Untuk kamu, aku sungguh merindukan dirimu. Rindu dengan masa-masa dimana kamu berjuang untuk meraih semua impian yang kamu miliki. Rindu dengan dukungan dari ayah, ibu, kakak-kakakmu, teman, sahabat dan juga orang-orang yang menyayangimu. Sungguh aku rindu, rindu dengan mereka, bagaimana mereka saat ini? Aku berharap kau menyisipkan cerita tentang mereka ketika membalas surat ini kelak.

Untukmu, surat ini kubuat sebagai suatu penanda bahwa apa yang kamu dapatkan saat ini bukan hal yang mudah.

Untukmu yang telah sukses di sana, sudikah kamu membalas suratku ini?

Malang, 30 Agustus 2015
Pukul 19:23 WIB
Di dalam sebuah kamar kost,
Remujung 22