Melewatkanmu

Standar

Sebagai seorang siswa baru di sebuah SMA, aku yakin berakhirnya MOS adalah hal yang paling menyenangkan. Tidak ada lagi tugas-tugas aneh yang harus menyita waktu dan tenaga. Tidak ada lagi teriakan-teriakan tak jelas dari kakak-kakak kelas yang beralibi sebagai panitia dan mencari kesalahan. Tidak ada pula kejar-kejaran meminta tanda tangan panitia yang susahnya seperti meminta tanda tangan artis papan atas.

Namun,tidak selamanya masa orientasi siswa tersebut membuatku mengeluh bahkan berputus asa hingga tidak masuk sekolah. Justru aku ingin mungulanginya lagi. Mencari barang-barang ajaib yang harus kupakai kesekolah lengkap dengan atribut yang membuat penampilanku justru terlihat lebih mirip orang gila daripada siswa baru. Mengerjakan tugas-tugas kelompok maupun individu hingga larut malam yang saat ini malah kurindukan. Tapi, bukan hanya itu saja yang ternyata aku rindukan. Seorang laki-laki yang berhasil membuatku diam-diam membiarkan menumpuk rindu untuknya.
Akumasih ingat bagaimana butiran keringat yang berjajar di keningnya. Iamengusapnya dengan menampakkan wajah kelelahan di tengah teriknya matahari siang itu ketika kami harus mengikuti acara baris berbaris. Dari sekian banyak siswa baru yang baru kukenal hanya dia yang dekat denganku. Dalam hari yang singkat pula, aku memiliki hobi baru,mencuri pandang ke arahnya.

“Rese banget! Udah jam segini masih belum kelar juga!” keluhnya padaku yang sedang memperbaiki tali sepatu.

Aku menoleh ke arahnya dan mengangkat tangan kiriku lalu menjatuhkan dibahunya. Aku tidak pernah menyangka akan menjadi seberani ini padanya. Melakukan hal itu pada orang yang baru kukenal beberapa hari. Menyentuh bahu seorang laki-laki bukanlah hal asing bagiku, tetapi apa yang aku lakukan padanya justru membuat aku merasakan sesuatu yang berbeda. Entahlah aku tidak tahu aku harus menyebutnya apa ketika aku menyentuh bahunya yang mampu membuat debaran-debaran di dadaku. “Tenang aja, hari ini kan hari terakhir. Besok kita bisa kembali merdeka.” ujarku menenangkannya sambil tersenyum padanya. “Mau minum?” aku menawarkan padanya sebuah botol berisi air mineral yang sengaja kubawa selama MOS berlangsung.

“Thanks ya!” dia menjawab sambil meraih botol air mineral yang kuberikan padanya. Sesekali aku memperhatikan dirinya yang meneguk air putih itu masuk ke dalam kerongkongannya. Aku suka begini. Mencuri pandang padanya. Sejak saat itu aku menyadari kalau perasaan kagum yang tidak kurasakan pada seorang laki-laki lain sebelumnya semakin menjadi-jadi.

Namanya Arman. Kami tidak pernah berkenalan secara langsung. Aku hanya mendengar namanya yang sering disebut-sebut oleh teman-teman baruku lainnya. Maklum saja jika ia lebih dikenal karena dia adalah ketua dari kelompok MOS yang aku ikuti. Aku lupa kapan dan bagaimana pertama kali laki-laki ini begitu menyita perhatianku. Aku hanya ingat bagaimana aku sangat senang ketika ia mengantarku pulang larut malam saat kami sekelompok mengerjakan tugas MOS untuk hari berikutnya bersama-sama. Aku juga ingat bagaimana ia berjalan di depanku dengan langkah kakinya yang berhasil membuat aku menjadi pengikut setianya.
Sungguh aku memiliki harapan yang sangat besar untuk selalu bersama dengannya sampai waktu yang tidak kutahu kapan. Namun sepertinya apa yang aku harapkan itu akan berakhir sebagai harapan saja. Tidak lebih dan tidak akan terwujud.

***

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi ketika orang yang kucintai semakin dekat denganku tanpa kuminta. Betapa beruntungnya diriku, di kelas yang sama, dia duduk bersebelahan tepat di bangku sebelah kananku. Dalam waktu yang singkat, aku mulai tahu bagaimana ia menghabiskan menit-menit terakhir ketika pelajaran mulai membosankan. Menyelinapkan makanan ringan ke kolong meja dan dimakan secara sembunyi-sembunyi ketika pelajaran berlangsung. Mendengarkan musik dari ponselnya apabila guru yang kami tunggu belum juga datang. Tetapi, aku masih ingin tahu banyak hal lain lagi tentangnya. Termasuk mengetahui apa dia memiliki perasaan yang sama kepadaku. Ah, aku mana mungkin tahu bila tidak menanyakan langsung kepadanya. Namun, sepertinya Tuhan tidak akan pernah menggariskan dia untukku.

“Kayaknya rambut kamu mulai panjang deh,” aku berkomentar saat Arman menggambar sesuatu di lembaran kertas yang didapatnya dari kolong meja. Menggambar adalah salah satu hobinya, aku pernah memintanya menggambar karikatur diriku dan aku masih menyimpannya hingga saat ini.

Arman meneruskan gambarnya. Membiarkan jari-jari tangannya bergerak lincah lalu membentuk garis-garis membentuk gambar yang tak kumengerti. “Benarkah?” tanyanya cuek dan terkesan tidak peduli dengan apa yang aku katakan. Dia memang terkadang sulit untuk diajak berbicara ketika dia sangat asik dengan apa yang dilakukannya yang terkadang memang sedikit membuatku jengah.

“Iya,kalau rambut kamu panjang seperti itu orang-orang pada risih!” aku kembali berkomentar sambil memperhatikan rambutnya yang sebagian menutupi daun telinga bagian atasnya dan bagian depan rambutnya jatuh menutupi hampir setengah dari bagian keningnya.

Arman berhenti menggambar. Ia menghadap ke arahku sambil menyentuh rambutnya, “Thanks udah ingetin. Aku bakal potong rambut segera, kalau perlu hari ini,” katanya sambil tersenyum. Senyuman itu telah membuatku percaya pada perasaan yang aku miliki adalah benar. Aku benar mencintainya tanpa harus aku ragukan lagi. Namun jika aku salah karena mencintainya, aku mau selamanya berada di kesalahan itu.

“Pulang sekolah anterin aku ya!” pintanya sambil mengangkat salah satu alis matanya yang hitam dan tebal. “Kenapa? Kamu nggak bisa?” tanyanya lagi ketika ia melihatku sedang berpikir, menimbang-nimbang ajakannya.
“Nggak, aku bisa kok.” Aku mengangguk setuju.
Sebenarnya pulang sekolah nanti aku berencana mengerjakan tugas kelompok dengan Maudy. Namun, sepertinya rencana itu harus aku batalkan. Sebagai gantinya, Maudy menyuruhku mencari dan mencetak sebuah artikel tentang bahaya makanan cepat saji. Untung saja Maudy pengertian.

Ini bukanlah kali pertama aku membatalkan janji dengan seseorang. Hal ini sering kulakukan hanya untuk bisa lebih dekat dengan Arman. Menghabiskan waktu bersama untuk mengenalnya lebih jauh. Aku senang melakukan kebohongan-kebohongan kecil itu demi Arman. Laki-laki yang kini memiliki tempat tersendiri di hatiku.

***

Aku dan Arman berada di sebuah ruko kecil bercat kuning. Sebuah tempat potong rambut di pinggir jalan yang biasa ia kunjungi. Aku menunggu di luar. Langit diujung barat terihat begitu gelap. Aku menolehkan kepalaku ke dalam ruangan. Aku melihat Arman sudah berdiri di depan kaca berukuran sedang sambil merapikan rambutnya. Penampilannya jauhlebih rapi dan bersih dari sebelumnya yang berhasil membuatku semakin kagum kepadanya. Menurutku, dengan alis tebal dan sedikit lancip ke atas dan hidungnya yang kecil tetapi mancung, Arman termasuk laki-laki yang tampan. Tetapi, aku heran mengapa ia tidak masuk daftar laki-laki tampan di sekolah.

Arman berjalan ke luar ruangan dan menemuiku, “Mau ke mana nih?” tanya Arman sambil meraih tas ransel miliknya yang kusodorkan.

Aku memasang tas ranselku. Aku menatapnya sambil mengangkat kedua bahuku sebagai tanda bahwa aku tidak tahu. Sebenarnya aku ingin cepat-cepat pulang tapi, kepalang tanggung jalan dengannya. Ingin mengajaknya menghabiskan waktu dengannya namun aku terlalu pengecut dan takut.

“Ya udah kita pulang aja yuk!” ajaknya sambil berjalan menuju motor miliknya yang terparkir di depan.

Kami meninggalkan tempat tersebut. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Waktu terasa kian melambat bagiku. Menatap punggungnya yang bidang adalah kesukaanku tiap kali bersama dengannya. Terakadang aku berandai betapa nyamannya berada disandaran punggungnya yang akan membuatku betah berlama-lama dengannya. Aku ingin menyentuhnya dengan lama agar ia tahu kalau ada aku yang selama ini mencintainya dalam diam.

Akhirnya hujan dari langit yang begitu gelap itu turun. Hujan turun sangat deras. Aku menundukkan kepalaku berlindung di balik punggung Arman. Setelah menyetir beberapa lama kami menemukan tempat untuk berteduh. Aku menggerak-gerakkan kakiku yang basah. Sedangkan Arman ia menggerak-gerakkan baju bagian depannya yang basah kuyup. Hujan deras yang sangat mendadak dan sulitnya mencari tempat berteduh membuat kami kebasahan.

“Sial banget!” seruku sedikit kesal.

“Maaf ya, aku lupa bawa jas hujan,” kata Arman mendengar ucapanku. Aku sedikit menyesal dengan keluhan yang kuucapkan sehingga membuat Arman merasa bersalah.

Kami menunggu hujan reda di depan sebuah ruko yang sedang tutup. Di depan teras sebuah ruko yang nyaman dan luas, membuat kami terbebas dari hujan yang begitu deras Hampir setengah jam lebih kami berada di tempat itu. Udara dingin mulai turun dan hujan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.

Aku menatap Arman yang sedikit mulai merasa bosan. Kepalanya yang basah kini sedikit mengering. Ia menundukkan kepalanya sambil menatap layar ponsel di hadapannya. Sesekali ia tersenyum seperti menanggapi tiap pesan yang masuk. Aku tidak tahu apa yang sedang dibacanya sehingga membuat ia tersenyum begitu girang.
Aku menatapnya kesal. Aku seolah tidak dipedulikannya lagi. Aku mengalihkan pandanganku pada butiran hujan yang menetes melalui atap. Berharap hujan ini turun lebih lama lagi.

Sadar suasana sepi yang tercipta di antara kami berdua, Arman mengalihkan perhatiannya padaku setelah mengantongi ponselnya. “Kata orang-orang, kalau kita berdoa di saat hujan, Tuhan mendengar doa kita lho.” Arman membuka pembicaraan dan aku menoleh ke arahnya. “Seandainya hari ini semua doa dikabulkan kamu mau doa apa?” Tanyanya.

Akumemutar bola mataku sedikit berpikir. “Seandainya memang itu terjadi, aku akan berdoa supaya Tuhan menakdirkan aku dan kamu bisa hidup bersama tanpa ada yang bisa merubahnya.” Batinku.

“Nggak tahu, terlalu banyak doa yang ingin aku minta.” Jawabku pada akhirnya, “Kalau kamu?”

Arman tersenyum dan sedikit mengangkat kepalanya menatap hujan yang masih turun, “Aku ingin apa yang aku inginkan selama ini terkabul, termasuk lamanya persahabatan kita” Arman menjawab sambil tersenyum kepadaku. Ah, lagi-lagi senyuman itu nyaris membuatku pingsan karena begitu mempesona.

***
Aku berada di rumah Arman. Rumah berlantai dua dengan halaman belakang yang sedikit luas itu terasa begitu sepi. Ayah dan ibu Arman pergi ke Bali untuk menghadiri undangan pernikahan di sana. Arman hanya berdua dengan bibi dan memintaku untuk menenamaninya.
Sudah beberapa kali ini aku berkunjung ke rumah Arman. Kami berdua terbiasa bersama. Biasanya setiap akhir pekan kami menghabiskan waktu dengan menonton DVD, bermain kartu, Play Station ataupun berdiskusi mengenai banyak hal. Aku tidak pernah membayangkan kami sedekat ini.

Aku sering mengunjungi rumah Arman begitu pula sebaliknya. Bahkan Arman begitu dekat dengan keluargaku. Ia betah berlama-lama menemani Miko bermain monopoli di ruang tamu dan bermain catur dengan Ayah. Bahkan,ibuku sepenuhnya percaya kepada Arman. Beliau tidak khawatir jika aku mengatakan pergi bersama Arman. Hal ini terkadang aku manfaatkan untuk pergi dengan teman-temanku walaupun sebenarnya Arman tidak bersamaku.

“Kamu nggak ngantuk?” tanya Arman kepadaku yang menguap beberapa kali meski aku melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Aku menggeleng dan sedikit tersenyum kepadanya, “Nggak.” Aku berbohong padanya.

“Kalau kamu mau tidur, itu kamar kamu,” kata Arman memberitahuku sambil menunjuk ke sebuah kamar yang terletak di belakang ruang tengah yang sedang kami tempati.

Aku menoleh ke arahnya sambil mengangguk. Sebenarnya aku mengantuk sekali hanya saja aku masih ingin menyaksikan DVD yang kami tonton hingga selesai. Aku terus menyaksikan film tersebut walaupun mataku terasa begitu berat sekali. Sesekali aku mencuri pandang pada Arman yang begitu serius menonton film tersebut sambil mengunyah camilan yang kubeli saat menuju ke rumahnya. Rahangnya yang bergerak ke atas kebawah membuat aku tak henti memandanginya. Seandainya saja kami bisa bersatu.

Aku tidak tahu pasti pukul berapa aku terbangun. Layar televisi dihadapanku sudah padam. Ruangan yang hanya disinari oleh beberapa lampu berdaya kecil membuat ruangan tak sepenuhnya gelap.

Disampingku terlhat Arman yang tengah terlelap. Kepalanya di sandarkan pada tepi sofa yang empuk. Dipeluknya bantal berukuran kecil didadanya. Ada dorongan besar di dalam hatiku untuk menyentuhnya. Ini adalah kali pertama aku melihatnya tertidur dengan nyenyak. Kata orang, saat kita melihat seseorang yang sedang tertidur, di saat itu juga kita melihat wajah alami orang tersebut.

Suara napasnya terdengar begitu jelas. Dadanya yang naik turun dengan teratur menandakan kalau ia tertdur begitu lelap. Mataku tidak berhenti memandanginya. Aku mendekatkankan tubuhku padanya sehingga membuat kepalaku mendekat pada wajahnya. Aku tidak pernah melihat wajahnya sedekat ini. Aku berani bertaruh, wajah Arman lebih tampan dari biasanya. Aku ingin sekali memeluknya dan bersandar kepadanya. Entahlah aku tidak tahu kapan hal itu bisa terjadi. Aku masih tidak berani.

Aku hanya bisa menyentuh wajahnya yang sedikit kasar.
“Arman, aku cinta sama kamu.” Bisikku.

***

Everything changes so fast. Setidaknya itulah yang saat ini kurasakan. Kami tidak sedekat seperti biasanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia tidak pernah menceritakan apapun kepadaku, terutama yang membuat hubungan kami sedikit merenggang.
Arman tidak sesering dulu mengunjungi rumahku. Terkadang aku beraharap menemukan sosok Arman di sudut rumah. Menghabiskan segelas kopi hitam buatan ibu. Membuat Miko tertawa terbahak dengan humornya dan membuat ayah bangga mengalahkan anak usia belasan di hadapan papan catur yang mereka mainkan. Aku terkadang mengarang cerita ketika keluargaku menanyakan Arman. Aku memang tidak tahu apa yang membuatnya berubah.

Di sekolah pun juga sama. Setiap pelajaran berlangsung ataupun tidak dia lebih sibuk dengan ponselnya daripada membuka pembicaraan denganku. Sejujurnya, aku kesal dengan sikapnya tersebut. Hal itu membuat pembicaraan kami minim. Kami tidak sedekat biasanya bahkan sekarang ia lebih dekat dengan Andi. Pernah aku melihat mereka berdua berbicara serius dan terkadang tertawa bersama. Arman mulai berubah dan aku tidak tahu mengapa itu terjadi.

***

Aku pernah mendengar kalimat dari sebuah film yang pernah aku tonton dengan Arman. Setiap orang memiliki mimpi, ada yang berusaha dan mewujudkan mimpi yang ia punya. Namun, terkadang ada pula yang memilih mundur dan menyimpannya. Lalu jika mimpi itu adalah Arman aku tidak ingin menjadi kalimat yang ke dua. Tetapi, bagaimana apabila mimpi itu seperti nyata namun terasa begitu sulit untuk diwujudkan?

Aku masih ingat sebuah pembicaraan yang menjadi titik dimana harapanku kepada Arman pupus. Masih sangat jelas terdengar suara perempuan itu ketika menemui Arman beberapa hari yang lalu, di depan pintu kelas sepulang sekolah.

“Pulang sekarang?” tanya Arman pada Lusi yang sedang berdiri di depan pintu kelas. Masih terlihat begitu jelas wajah sumringah Arman ketika menanyakan hal itu pada Lusi.

Lusi tersenyum kepadanya sambil sedikit mendongakan kepalanya menatap Arman. “Ayo! Jangan sampai nyasar seperti kemarin ya!” kata Lusi sambil mengapit tangan Arman tanpa ragu sedikitpun.

Aku memandang iri kepada Lusi. Betapa beruntungnya dia dengan mudahnya mengapit tangan Arman. Itulah alasan yang membuat mengapa Arman berubah. Arman dan Lusi dekat bahkan menjadi perbincangan teman sekelas. Aku juga baru tahu kalau Lusi adalah sepupu Andi, sehingga itu menjawab rasa penasaranku mengapa Arman mendadak dekat dengan Andi.

Ada satu hal yang kudengar dari mereka dan baru aku ketahui, Arman dan Lusi bukan lagi dua orang yang saling mendekati satu sama lain. Mereka adalah pasangan yang kasmaran. Seandainya saja Arman tahu, akulah yang pertama kali mencintainya dan memberikan perhatian lebih padanya.

***

Aku memandangi layar desktop laptop yang kunyalakan. Di sana terlihat Arman sedang meletakkan tangannya ke bahuku. Ia tersenyum ke kamera. Di sisi sebelah kanannya, Bagus sedang berdiri sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Aku masih ingat di mana foto itu diambil. Di sebuah kebun teh yang kami kunjungi beberapa waktu yang lalu. Aku dan teman sekelasku berkunjung ke sana. Hampir seharian kami menghabiskan waktu di sana. Aku merasa sangat senang sekali saat itu sebab, liburan singkat itu membuat aku dan Arman semakin dekat.Aku ingat bagaimana cara yang kulakukan ketika aku tidak ingin menjauh darinya saat kami mengelilingi kebun teh itu. Aku juga masih ingat ketika beberapa kali Arman merangkulku tanpa sengaja yang justru membuat debaran di jantungku semakin kencang.

Aku ingin mengulang lagi. Rasanya sangat mustahil sekali bagiku. Apa yang yang aku inginkan kini semakin jauh dengan apa yang kumimpikan. Arman menghilang di dalam kehidupanku secara perlahan.Tidak ada lagi pesan masuk di ponselku yang biasa ia kirim ketika tidak bisa tidur. Tidak ada lagi pula telepon masuk darinya, menanyakan PR yang biasanya diakhiri dengan pembicaraan panjang lebar tentang apa yang terjadi seharian di sekolah. Semuanya perlahan memudar dan aku tidak bisa menghentikan itu.

***

Hari ini aku begitu malas untuk ke sekolah. Pelajaran hari ini terlalu membosankan, itulah yang menjadi alasanku. Aku baru saja masuk ke dalam kelas ketika bel masuk berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu. Bangku di sampingku masih kosong. Aku mencoba menyapu seluruh ruangan dengan mataku berusaha menangkap sosok Arman yang mungkin sedang berada di bangku belakang. Aku tidak menemukannya di sana.

Rudi menghampiriku dan duduk di bangku kosong yang biasa ditempati oleh Arman, “Aku duduk di sini ya?”

Aku mengangguk dan menunggunya duduk di bangku tersebut setelah ia meletakkan tas miliknya di atas meja, “Kenapa kamu pindah? Arman duduk di tempatmu?” tanyaku sambil menoleh ke arah bangku Rudi yang berada di paling depan.

“Arman kan nggak masuk hari ini,” jawab Rudi santai.

Aku mengerutkan dahiku. Bagaimana ia tahu kalau Arman tidak masuk? Biasanya kalaupun memang ia tidak masuk, ia menghubungiku untuk membuatkannya surat semalam sebelumnya. “Nggak masuk?” ulangku.

“Kamu nggak tahu?” tanya Rudi seolah heran kepadaku, “Tadi pagi dia kecelakaan. Teman-teman mau jenguk ntar,” Rudi menjelaskan.

Akumenggeleng. Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Rudi. Aku meminta Rudi untuk menjelaskan apa yang dia dengar dari teman-teman mengenai Arman. Motor yang dikendarai oleh Arman ditabrak oleh sebuah mobil yang oleng ketika melintas di sebuah perempatan tak jauh dari sekolah. Aku langsung menelepon ibu Arman untuk menanyakan keadaan dan keberadaan Arman. Aku khawatir. Aku tidak pernah sekhawatir ini pada laki-laki. Entah kenapa rasanya kekhawatiranku pada Arman sungguh berbeda.

***

Aku berada di sebuah ruangan tempat Arman dirawat. Suasana ruangan begitu sepi. Suara jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam terdengar sangat jelas. Arman menutup matanya. Ia tertidur sedangkan aku menemaninya, duduk di samping tempat tidur.

Akumenarik napas kemudian menghembuskan perlahan. Aku meraih tangan kirinya. Akumenggenggamnya sangat erat kemudian menciuminya. Tangannya hangat. Sejujurnya, ini adalah kali pertama aku menggenggam tangannya. Aku tidak ingin melepasnya.

“Arman, aku sayang sama kamu. Mungkin perasaan yang kumiliki ini salah, tapi aku tidak mau pergi dari rasa yang salah ini.” Ucapku menggenggam tangannya sambil menatap mata Arman yang sedang terpejam.

“Seandainya Tuhan mengijinkan, aku pasti akan merasa jauh lebih bahagia ketika memilikimu daripada hanya mencintai kamu dengan diam-diam, Arman,”aku melanjutkan kata-kataku dengan suara bergetar. Aku menahan air mataku yang mulai melesak ingin keluar. Tenggorokanku terasa sangat berat. Aku menangis di hadapannya. Tubuhku bergetar oleh tangisan yang kutahan.

Aku bangkit dari tempat bangku yang kududuki. Aku berdiri di sampingnya lalu mendekatkan wajahku padanya. Aku menciumi keningnya. Sudah lama aku ingin melakukan ini padanya. Namun, aku tidak cukup berani untuk melakukannya. Mataku kian perih oleh air mata. Aku sadar bahwa cinta yang kumiliki ini tidak akan pernah dirasakan pula oleh Arman. Kami tidak akan pernah bisa bersama. Tidak ada di catatan Tuhan nama kami berdua sebagai pasangan yang telah ia takdirkan bersama.

***
Kantin rumah sakit terasa begitu sepi meskipun banyak juga pengunjung yang datang. Aku mengaduk es teh yang kupesan beberapa saat yang lalu. Aku memandang ke segala arah, berharap seseorang yang kutunggu itu segera datang.

Tak lama berselang aku melihat Lusi berjalan cepat ke arahku. Ia terlihat begitu sinis ketika kupersilakan duduk di bangku yang berada di depanku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.

“Ndre, aku mohon sama kamu jauhi Arman mulai saat ini juga.” Lusi memulai percakapan nada memaksa.

Akumengernyitkan keningku sebagai tanda, untuk apa aku harus meninggalkan Arman.

Lusi melenguh kesal, “Aku nggak peduli dengan apa yang kamu rasakan, Ndre!” Serunya sambil memperlihatkan wajah kesalnya padaku, “Aku juga nggak peduli kamu menganggap Arman sebagai apa. Kamu salah, Ndre! Kamu salah….” Cecar Lusi sambil berusaha menahan air matanya yang mulai keluar.

Lusi yang menyerangku lewat kata-katanya membuatku terkejut. Aku tidak bisa mengeluarkan kalimat dengan mudah. Aku bingung dan sedikit terkejut.

“Maksud kamu apa, Lus?”

“Pertanyaan yang bodoh! Aku sudah tahu yang sebenarnya, Ndre! Aku nggak peduli, yang pasti aku mohon jauhi Arman,”

Aku menggeleng, “Nggak semudah itu, Lus.”

“Kenapa?”

“Aku terlanjur jatuh cinta sama Arman.” Jawabku dengan menahan kesal di dadaku.

Lusi menatapku kesal. Tangan kanannya mengepal sehingga urat tangannya yang menegang terlihat sangat jelas, “Andre, sampai kapanpun kamu nggak akan bisa memiliki Arman. Kalian berdua laki-laki, Ndre.”

Aku terdiam. Apa yang dikatakan oleh Lusi memang benar. Aku tidak akan bisa memiliki Arman, apapun yang kulakukan tidak akan bisa. Aku salah karena telah jatuh cinta kepadanya. Aku juga salah telah banyak berharap dan berandai suatu saat bisa bahagia dengannya. Aku salah besar.

“Apapun yang menjadi keputusan kamu. Aku mau kamu lupakan Arman!” Kata Lusi untuk yang terakhir kalinya kemudian ia meraih tas tangan miliknya lalu pergi meninggalkan aku.

Hancurlah aku. Bagaimana Lusi bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaanku?

***

Aku tidak peduli dengan apa yang sudah dikatakan oleh Lusi kemarin. Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tempat Arman dirawat dengan sedikit berdebar. Aku tidak tahu mengapa aku menjadi sedikit penakut saat Lusi menemuiku kemarin. Aku juga tidak tahu bagaimana ia tahu apa yang aku rasakan kepada Arman. Apakah aku telalu berlebihan menujukkan rasa yang kupunya sehingga mudah terbaca? Kalaupun kenyataannya seperti itu, mengapa Arman tidak menyadari hal itu?

“Aku mau kamu menjauh dari Andre,” aku mendengar suara itu. Suara yang sedikit bergetar disertai oleh beberapa isakan setelahnya. “Dia seorang gay, suka sama kamu, Man. Aku nggak mau kehilangan kamu,”

Mendengar perbincangan itu. Aku menahan tubuhku berdiri di balik pintu kamar tempat Arman dirawat, memasang indera pendengaranku. Aku bisa merasakan betapa hancurnya hatiku saat Arman mengetahui apa yang aku rasakan kepadanya selama ini.

“Dari mana kamu tahu, Lus?” Tanya Arman tenang sambil menggenggam tangan Lusi yang menangis di sampingnya.

“Kemarin, aku lihat dia cium kamu. Kalau dia laki-laki normal, dia nggak akanmelakukan hal seperti itu,”

Akumembuka pintu rumah sakit. Aku berdeham membuat Lusi dan Arman terkejut. Lusi menoleh ke arahku dengan sangat kesal sambil mengusap air matanya. Sedangkan Arman, ia menatapku dengan penuh rasa tidak percaya.
Aku mendekati keduanya. Aku meletakkan tanganku di kedua bahu Lusi. Akumemandangi Arman yang terbaring, “Kalian sudah tahu semuanya?”

Tidak ada jawaban dari Lusi maupun Arman. Aku yakin mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing setelah tahu apa yang sebelumnya tidak mereka percaya.

“Aku mungkin orang yang pertama kali jatuh hati kepada kamu, tapi aku yakin kalau aku bukan orang yang akan memiliki kamu,” aku melanjutkan kata-kataku sambil menahan emosi yang bergumul di dadaku.

“Selama ini, kamu menganggap aku sahabat tapi, aku mengartikannya lebih, Man. Mungkin inilah saatnya aku harus pergi dengan perasaan yang jelas-jelas salah di mata kalian. Apapun yang terjadi selama kita bersama, bagiku itu adalah kenangan yang tidak bisa kulupakan.”Kataku lagi membuat Arman mendengarkanku dengan seksama membuat suasana begitu hening dan hanya terdengar sisa-sisa isakan dari Lusi.

Aku berjalan ke arah Arman. Aku merangkulnya. Arman melingkarkan tangannya di punggungku. Aku merasakan hangatnya pelukan kami. Pelukan pertama sekaligus terakhir yang sudah sangat lama aku inginkan.

“Apapun yang terjadi, itu adalah pilihan hidup kamu. Kamu akan tetap menjadi sahabat terbaik aku, Ndre!” kudengar suara berat dari Arman disertai pelukannya yang semakin kuat di punggungku.

Pelukan itu lepas. Aku menoleh ke arah Lusi, “Arman itu milikmu dan aku tidak memiliki hak untuk memaksakan perasaanku untuk memilikinya. Jaga dia baik-baik.” Kataku sambil mengusap lengannya memastikan kepadanya.

“Aku yakin kalian bahagia karena perasaan kalian yang direstui Tuhan,” aku mengakhirinya sambil tersenyum kepada keduanya.

Aku beringsut pergi meninggalkan keduanya. Kubiarkan takdir memainkan apa yang sudah dituliskan. Merelakan seseorang pergi sama sulitnya ketika kita berhenti mencintai di saat jatuh cinta. Sekilas rangkaian kenangan yang pernah kulalui dengan Arman berjalan dipikiranku seperti film yang kami tonton bersama. Aku tidak pernah menyalahkan cinta yang kutahu kalau cinta tidak akan pernah salah menempatkan perasaannya.
Kini aku sangat menyadari kalau takdir begitu kuat dan aku tidak mungkin bisa mengalahkan takdir sampai kapanpun.

Arman, bisakah aku melewatkanmu meski hati ini masih berdusta kalau aku telah melupakanmu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s