Maudy

Standar

Namanya Maudy, tiap kali aku mendatangi kafe bernuansa timur tengah ini, entah kenapa di hatiku ada debaran yang tidak bisa kuterjemahkan dengan mudah. Lesung pipitnya yang manis dan gigi kelincinya yang menggantung menggemaskan serta suara merdu yang kudengar tiap kali ia bersenandung di panggung mini kafe adalah sebagian kecil dari alas an aku mengaguminya..
Ia bukan perempuan yang cantik dan sempurna. Sederhana,  namun kesederhanaan itu yang menjebakku untuk terus-menerus memikirkannya. Seperti malam ini yang ku tak tahu entah kenapa debaran di hatiku semakin kuat – seperti keinginanku untuk menyatakan perasaanku padanya.

Entah dari mana kami memulai, aku tak tahu pasti kapan semua dimulai. Aku dan dia begitu dekat. aku juga suda lama menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaaanku. seperti malam ini, waktu yang tepat itu datang. Aku tidak tahu mengapa aku begitu percaya dengan ‘waktu yang tepat’, bukankah semua waktu adaah waktu yang tepat?

Maudy ia tidak pernah tahu, semenjak kepergianku untuk melanjutkan kuliahku di luar kota, aku masih setia dengan rasa yang aku punya. Setiap kali rindu itu menumpuk, aku hanya bisa mendengar suaranya lewat ponsel. Setiap kali keinginan untuk menemuinya kian mendesakku, aku hanya bisa melihat lini masa social medianya dan menyapanya lewat chat. Itu saja sudah cukup membuatku bahaga.

Malam ini aku tida tahu mengapa aku mendadak ingin menghindar dari momen yang sebenarnya aku inginkan ini. Aku benci setiap debaran yang muncul ketika dekat dengannya dan aku tahu kalau menyatakan apa yang sudah tersimpan di hati adalah cara terbaik untuk menghentikan debaran-debaran itu.

Aku menyimpan perasaan ini sudah cukup lama. Kafe ini menjadi tempat pertama kalinya aku jatuh hati kepada dia. Dan aku tidak pernah menyangka kalau tempat ini juga menjadi tempatku patah hati yang kesekian kalinya.

Aku terlambat untuk menyatakan perasaan yang sudah kupunya. Lagian, sepertinya Maudy tak mungkin membuka hati untuk pria yang cuma jatuh cinta diam-diam kepadanya. Dia sudah tidak sendirri lagi malam ini, pria berkacamata dengan hidung mancung itu menggenggam tangannya seraya bersenandug bersama di panggung kecil menghibur seseorang yang patah hati.

Seandainya keberanian itu datang lebih dini, mungkin tidak akan pernah ada kata terlambat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s