Hujan Kemarin

Standar
Gambar

Download PDF version here

Aku merindukanmu lewat hujan yang menyapa, tetesan airnya meresap ke dalam jantung bumi seperti tiap kali rindu untukmu turun, seperti hujan kamu selalu kutunggu meski sebentar tapi membuatku tak cepat bosan. Kamu dan hujan seperti jodoh yang diturunkan Tuhan, namun tidak denganku.

Masih ingatkah kamu pada hujan kemarin? Tetesannya mengalir deras meresap ke dalam tiap pori-pori bumi. Ada juga yang menempel, hinggap di dedaunan dan bahkan mengembun di kaca jendela. Basah dan aroma hujan, itu kan yang kamu suka darinya? Karenamu aku juga bernasib sama, mengikutimu menikmati hujan. Alunan titik-titik airnya yang turun, berirama, terdengar menenangkan – sama seperti tiap kali aku mendengar suaramu.

Hujan kemarin, kamu meneleponku. Mengajakku berbicara panjang lebar tentang pelajaran di sekolah yang begitu menguras tenaga dan pikiran, tentang orang – orang populer di sekolah yang sering kamu ceritakan keburukannya dengan ciri khasmu yang humoris dan tentang idola dari Korea yang begitu sulit untuk aku ingat. Aku mendengarkan semuanya terkadang sesekali tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajah yang kamu gerakkan di tiap-tiap bagian ceritamu. Hujan yang basah dan mendingin begitu terasa sangat hangat oleh suaramu yang selalu aku rindukan.

Kamu tahu, dulu aku dan kamu bukanlah siapa-siapa, kita cuma teman sekelas dan tidak lebih dari itu bahkan aku jarang memperhatikanmu, gadis cerewet, manja dan suka membuat kehebohan di kelas. Tapi, semua berubah waktu aku dan kamu berada dalam satu kelompok drama Bahasa Inggris, aku diam-diam memperhatikanmu. Kamu ternyata lebih dari sekedar gadis biasa. Entahlah sejak kapan, aku mulai merindukan kemanjaanmu ketika memintaku mengantarmu pulang, kecerewatanmu yang menasihatiku untuk merawat diri karena aku terlalu cuek dengan penampilan – dan entah mengapa aku menurutimu – dan juga kehebohanmu yang membuatku rindu dan tidak lagi memboloskan diri. Ketika itu aku mulai tahu betapa berartinya dirimu untukku.

Aku ingat kali pertama kamu dan aku jalan berdua. Kedai ice cream di dekat tugu kota, menjadi tempat favorit kamu dan aku untuk menghabiskan waktu bersama menikmati ice cream dan live accoustic music. Aku juga masih ingat, apa yang kamu pesan tiap kali ke sana, ice cream mix vanila dan starwberry dengan taburan misis warna – warni di atasnya juga sepotong wafer cokelat kecil yang diselipkan di sampingnya. Dan dengan biasanya juga, aku membantumu mengusap ice cream yang menempel di bibirmu. Aku tidak tahu mengapa tiap kali seperti itu.

Hujan kemarin mengingatkan aku akan banyak hal yang sudah kita lewati bersama. Kebahagiaan ketika kamu berhasil lolos dalam pemilihan miss photogenic, meskipun hasilnya kamu bukanlah juara tapi aku ingat betapa heboh dan bahagianya kamu ketika memberitahuku di kelas yang membuat teman-teman lainnya juga ikutan gembira meski ada yang tidak tahu sebab akibatnya. Kesedihan juga kita lalu bersama ketika kita tahu kalau kucing persia yang kita beli dengan menabung harus mati begitu cepat karena kedinginan terkena hujan. Ah, hujan terkadang membuatku sedih jika mengenang ini. Itulah sebagian dari sekian banyak cerita yang pernah kita lalui bersama. Kamu tahu? Buatku, bersamamu adalah hal terindah di mana tawa, canda, tangis, bahagia dan sedih melebur menjadi satu dalam kenangan-kenangan yang tak terganti.

Bagiku, kamu itu tidak ubahnya seperti hujan kemarin. Biarpun turun cuma sebentar atau begitu lama dan deras, kamu kurindukan di hari ini bahkan selepas hujan itu usai. Seperti yang kamu suka dari hujan, aromanya sama sepertimu yang khas dan selalu aku mau tiap berjumpa denganmu..

Ketika hujan kemarin, kamu memberi jeda sejenak. Ketika kutanya mengapa, kamu tak menjawab dan membuatku ingin tahu. Kudengar suara gemerisik darimu – tanda kamu mulai mengangkat dan menggunakan ponselmu – lalu terdengar suaramu. Kamu tertawa kecil tiap kali aku memanggil namamu untuk merespon panggilanku. Kutanyakan apa yang terjadi, kamu cuma menjawab dengan kata rahasia lengkap dengan tawa dan candaanmu yang khas.

“Aku jadian, sengaja ga bilang biar jadi kejutan buat kamu, Jan.” kamu menjawab ketika aku mendesakmu.

Hujan kemarin, menjadi satu-satunya hujan terburuk bagiku. Manisnya semua yang sudah kita jalani terasa begitu hambar dan melenyap tanpa sisa oleh kabarmu yang mengejutkan itu. Kamu terus menceritakan sosok lelaki yang memilikimu itu begitu lengkap. Kamu bercerita mengapa bisa mencintaimu, sejak kapan kamu dengannya dekat dan betapa romantisnya dia ketika bilang cinta sama kamu. Aku mengucapkan selamat kepadamu, kuadegankan aku bahagia tertawa dan memintamu untuk mentraktirku karena jadian. Kamu tidak tahu, betapa pilunya hati yang kupunya ketika semua itu kamu ceritakan, makin memilukan tiap kau ceritakan dia dan dia. Dadaku sesak seolah tak mampu menerima beban yang seharusnya tidak kupercaya.

Hujan kemarin masih juga belum reda. Kamu memutuskan pembicaraan dan bilang mau menghubunginya. Kemarin kita berada di bawah hujan yang sama, sama-sama menikmati nada-nada, aroma, kebasahan dan dingin yang diciptakannya. Namun, pikiran kita tidak berada pada lajur yang sama. Kamu memikirkannya bersamaan dengan bahagia yang diciptakan. Sedangkan aku? Masih terdiam menikmati hujan mengenang kebersamaan denganmu.

End

Iklan

2 responses »

  1. wawh………makjleb,,,,
    baca dari awal merasa biasa aja, diksinya soalnya menerutku juga belum terlalu kaya (sok-sokan nih ceritanya aku…haha)
    tapi pas ending, ciamik dan aku suka.
    keep write dude 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s