Ketika Kamu Jenuh Menulis

Standar

signoflove,letter,love,heart,potentialprojects-8d5d30b26e9a9b49d8dda382d37d24d6_h

Kali ini saya akan menulis tentang bagaimana perasaan saya ketika menghadapi kejenhan dalam menulis. Memang menjadi penulis itu nggak semudah yang kita pikirkan, punya ide, menulis, kirim ke penerbit dan diterbitkan. Masih ada banyak “perjalanan” panjang yang akan mewarnai prosesnya.

Kekakuan Dalam Menulis

Saya sudah hampir sekitar enam tahun tidak menulis novel. Hal itu terjadi karena niat dari dalam diri saya untuk meneruskan menulis novel itu masih sangat minim. Saya hanya hobi membuat outline dan deadline yang terlalu sering saya abaikan. Bahkan, saya pernah mengabaikannya hingga setahun kemudian tanpa hasil. Meski saya sudah melakukan riset untuk novel yang akan saya tulis. Saran saya adalah ketika kita sudah melakukan survei, membuat outline dan deadline ada baknya kita segera menuliskannya dalam bentuk cerita supaya ide yang kita pikirkan tidak terlalu lama di otak sehingga membuat kita susah untuk melanjutkannya. Latihlah dengan menulis apapun setiap hari untuk membuat tulisan kita tidak kaku.

Saat Jenuh Melanda

Ada kalanya ketika kita semangat untuk menulis namun kita merasa jenuh dengan apa yang kita tulis. Mulai dari adegan yang kurang, cerita yang nggak nyambung dari adegan pertama dan kedua hingga percakapan tokoh yang terkadang membuat kita mengerutkan dahi karena tidak adanya keinteraktifan dakam dialognya sehingga melenceng dari apa yang ingin kita tuliskan. Bahkan juga mungkin kita tidak tahu harus menuliskan adegan apalagi di tulisan yang kita tulis. Saya mengalami ini semalam, yang saya lakukan ialah saya terus menulis entahlah meski sepertinya hanya dialog saja yang saya tuliskan saya tetap menulis. Lalu, saya menambahkan beberapa adegan yang tisak saya pikirkan apa yang akan dilakukan tokohnya di adegan tersebut. Pokoknya saya tulis. Nekad, iya. Sebab, kegiatan yang saya lakukan adalah menulis bukan mengedit atau merevisi. Hal itu yang harus saya lakukan karena nantinya tulisan itu harus saya revisi dan diedit agar isinya lebih nyata dan hidup serta terhindar dari ketidaknyambungan antar kalimat, antardialog dan antaradegan.

Jauhi Hal YangMengganggu

Banyak hal yang membuat kita nggak mood untuk menulis. Entah itu karena faktor eksternal seperti lingkungan yang berisik dan tidak kondusif atau faktor internal dari dalam dri kita sendiri seperti malas, capek dan berbagai alasan tak masuk akal lainnya. Saya selalu mematikan musik di laptop ketika saya menulis. Bagi saya lagu yang diputar akan sangat menganggu saya untuk menulis. Saya juga suka mandi ketika malas itu datang, biasanya hal ini terjadi ketika saya menulis sepulang kuliah di sore hari dimana badan lagi capek btuh penyegaran. Dan, biasanya saya menulis dengan syarat tidak adanya pengamggu dan jauh dari kebisingan atau keramaian. Itu cara saya mendapatkan waktu dan cara yang tepat untuk menulis. Setiap penulis tidak memiliki gangguan yang sama. Jadi, mendengarkan musik sambil menulis mungkin bisa menjadi pilihan menyenangkan untuk sebagain penulis tapi untuk sebagian lainnya hal itu sangat mengganggu.

Itulah sedkit pengalaman yang bisa saya tuliskan di sini. Jika memiliki masukan dan saran yang menarik untuk tulisan ini, bisa dituliskan di kolom komentar.

Happy writing, huys!

 

Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s