Curahan Hati Tentang Ayah

Standar

Ayah. Bagi saya ia adalah sosok yang luar biasa dalam hidup saya. Sejak kecil saya terbiasa dengan Ayah saya, lebih tepatnya saya dekat dengannya dibandingkan dengan kedua kakak saya. Saya masih ingat bagaimana hangatnya pelukannya. Keras namun nyamannya bahunya yang bidang. Dia begitu berarti bagi hidup saya, sangat.

Dulu, saya sangat dimanja. Apa-apa hampir semuanya dituruti. Minta ini dan itu, terutama minta majalah Bobo yang waktu itu sangat saya sukai! Mungkin sejak kecil itulah saya tanpa disadari suka membaca. Di antara kedua kaka saya, saya yang paling pintar merajuk Ayah. Biasanya, tiap kali selesai ulangan umum, Ayah membawa saya dan kedua kakak saya ke rental kaset CD untuk kami tonton sebagai refreshing. Biasanya juga, saya yang selalu menagih Ayah untuk membawa kami ke rental, tentunya dengan suruhan kedua kakak saya.

Ayah, dia seorang yang keras, terlihat dari bagaimana ia bekerja. Dulu, hampir tiap pagi saya selalu menemaninya, mencabuti rumput liar di halaman depan bahkan juga rela menungguinya ketika sore saat ia sedang mengelola sawah yang kita miliki. Sungguh indah sekali moment itu. Bukan hanya itu, Ayah juga seorang penyayang, sangat penyayang. Saya dan kedua kakak saya tidak pernah merasa kehilangan rasa sayang itu. Ia mengerti bagaimana caranya menjadi Ayah yang baik. Membawakan kami makanan hangat sepulang dari kantor – meski ia sendiri kehujanan, membawa kami ke pasar malam bertiga, dan tak luput pula memberi kami award  jika salah satu dari kami memiliki prestasi. Bahkan sekarang ini, tiap kali saya pulang ke rumah, Ayah selalu menunjukkan rasa cintanya dengan cara tidak langsung, menyelimuti saya yang terbiasa tidur tanpa selimut bahkan bebera kali saya melihat Ayah memperhatikan saya saat tidur dan saya berpura-pura tidak terbangun. Manis.

Aku bersyukur bisa menjadi anak yang membanggakan baginya, sejak kecil apa-apa saya selalu dengan Ayah. Walau dimanja, saya bukan berarti tumbuh sebagai anak manja yang tidak bisa bebuat apa-apa. Buktinya, ketika saya duduk di bangku SD, saya banyak mengikuti perlombaan, menggambar, murid teladan, lomba cerdas cermat dan lain sebagainya. Dan itulah yang saya lakukan, yang sekarang saya sadari mampu membanggakan Ayah saya.

Kalau di kilas balik, rasanya saya tidak ingin cepat-cepat menjadi dewasa seperti saat ini. Ingin rasanya berlama-lama berada di masa kecil itu. Saya masih ingat bagaimana buru-burunya Ayah pulang dari kantor menjemput kami untuk menonton carnaval tahunan di kota kami, seniat itu. Menjemput kami pulang mengaji dengan membawakan payung ketika hujan turun. Dan… masih banyak lagi kesan terindah yang Ayah torehkan di dalam kehidupan saya.

Saya, tidak bisa mengingkari diri sendiri dan berusaha untuk menampik. Saya terkadang sering merasa rindu dan bahkan terkadang menangis mengingat semua keindahan itu. Semua itu cepat berlalu, cepat dan sangat cepat.

Tumbuhnya saya menjadi dewasa tidak mengurangi perhatiannya kepada saya. Meski kini saya tidak seakrab ketika saya masih kecil, saya masih merasakan bahwa kasih sayang Ayah itu masih lekat berada di sisi kami. Kedekatan kami memang sedikit berkurang menjelang saya duduk di bangku SMP. Bukan permasalahan yang besar yang membuat saya menjaga jarak dengn Ayah, bukan. Waktu itu guru tempat saya mengaji menyuruh sebagian besar murid untuk berbicara menggunakan bahasa yang sopan, istilahnya kalau dalam bahasa jawa ialah bahasa krama. Hal itu yang membuat kami menjadi agak menjauh, padahal sebelumnya kami begitu dekat. Ya, masalah sepele tersebut yang memiliki dampak besar bagi kami, hingga sekarang.

Namun di sisi lain, Ayah adalah orang yang keras kepala. Terkadang masalah sepele menjadi masalah yan sangat besar, besar sekali. Masalah yang bisa diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari satu detik – mungkin – bisa menjadi masalah berkepanjangan, berhari-hari. Bukan hanya itu, setiap anggota keluarga sudah tahu kalau apapun kemauan Ayah, tidak akan pernah bisa merubahnya, kecuali hati kecilnya yang berkata lain. Begitu.

Itulah istimewanya Ayah saya. Ayah yang menyimpan kharismanya tersendiri. Begitu.

Ada keinginan yang sangat saya ingin lakukan, meski hingga kini hal itu begitu sulit untuk saya lakukan. Memeluknya. Ya, saya ingin sekali memeluknya seperti bagaimana dulu saya memluknya saat terlelap tidur di tubuhnya. Saya sangat berharap saya bisa melakukan hal itu. :’)

 

-AD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s