Writing Tips : How To Begin A (catchy) Novel?

Standar
stock-photo-new-chapter-146340740

I owe this picture here

Hari ini saya akan membagikan beberapa tips untuk memulai menulis novel. Memang dalam menulis novel, hal yang pertama kali harus dilakukan adalah menulis. Tentu, semua orang tau hal itu. But, just some people know how to make a catchy novel on first words or 10 pages early. Caranya gampang. Berdasarkan pengalaman dan artikel yang saya baca, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk melakukan hal ini, memulai untuk menulis novel yang menarik pembaca.

Pertama, jauhi kebiasaan kepenulisan yang sama atau stereotype, dimana hampir semua penulis pemula atau penulis kebanyakan lakukan. Misalnya, untuk naskah genre teenlit. Selalu saja bab awal – lebih tepatnya kalimat pertama, dimulai dari bangun tidur, telat, buru-buru, jam weker berbunyi and anything else. Jika memang kita ingin membuat adegan seperti demikian mulai lah dengan hal yang baru, modifikasi. Misalnya nih, langsung aja ke adegan dihukum oleh guru gara-gara terlambat, nah ntar kita bisa jelasin tuh adegan kenapa bisa si tokoh terlambat. Jika bangun kesiangan adalah hal yang biasa dilakukan oleh penulis, try something new, misalnya ban motor bocor, macet atau ponsel ketinggalan sehingga membuat si tokoh balik lagi ke rumah dan membuatnya terlambat. Seperti itu. Misal,

 “Matahari sudah semakin tinggi, aku dan beberapa siswa lainnya masih berdiri di depan tiang bendera. Macet. Gara-gara jalanan macet aku harus dihukum hormat kepada bendera yang ada di hadapanku. Sebenarnya sih bukan hanya macet saja yang membuatku harus dihukum seperti hari ini. Tadi aku bangun hampir jam setengah tujuh. Nggak biasanya aku kesiangan, gara-gara aku harus begadang menyelesaikan tugas komputer semalaman.”

Kedua, mulailah kalimat pertama dengan sebuah aksi, tentunya dengan aksi yang tidak stereotype seperti yang saya tulis di atas. Misalkan nih bagaimana si tokoh mencari jalan keluar dari kemacetan saat akan berangkat ke tempat tujuan, cara si tokoh memaksa masuk ke sekolah ketika pintu gerbang sekolah sudah tertutup atau bisa juga dengan aksi bagaimana si tokoh gugup mengungkapkan perasaannya pada gebetan. Cobalah hal ini. Saya yakin pasti pembaca akan penasaran untuk mengetahui kelanjutan ceritanya, karena kita sudah memberikan aksi yang akan ditunggu oleh pembaca mengenai bagaimana si tokoh keluar dari masalahnya. Contoh,

“Pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Aku terlambat lagi hari ini. Aku dan beberapa teman yang lain langsung melangkahkan kaki menuju pagar tembok yang berada di samping sekolah. Sebuah kursi tak layak pakai, yang hanya bisa dipakai untuk menopang tubuh saat akan memanjat pagar, bertengger di sana. Kursi itu sudah biasa digunakan oleh siswa yang terlambat untuk memaksa masuk ke lingkungan sekolah, tak terkecuali siswa perempuan. Aku berusaha memanjat  tembok itu dengan susah payah. Salah satu temanku berada di atas, sengaja dia stand by di sana untuk membantu menarik badanku yang gemuk agar bisa menaiki pagar. Sementara yang lain, berusaha menopang tubuhku dan mendorongnya. Hingga aku bisa memanjat pagar setinggi 3,5 meter itu.”

Ketiga, di awal-awal kalimat atau bab pertama kita harus memperkuat tema kita. Buatlah pembaca penasaran dengan tema yang kita bawakan dalam tulisan kita. Misalkan kita membawakan tema cinta tak terucap. Cobalah di awal-awal kalimat atau bab pertama, explore bagaimana tema itu dalam suatu cerita. Misalkan nih, si tokoh selalu memperhatikan gebetan dari kejauhan, stalking akun media sosialnya, mengoleksi benda yang juga digemari gebetan, seperti itulah. Gunakan atau angkat tema-tema menarik yang bisa membuat pembaca penasaran dan mau melanjutkan untuk membaca hingga akhir. Contoh,

“Perempuan itu sudah hampir seminggu terakhir ini menjadi satu-satunya murid yang selalu datang lebih awal sebelum pukul setengah tujuh pagi, atau lebih tepatnya sebelum sebagaian besar siswa kelas XII tiba di sekolah. Ditangannya sudah tergenggam sepotong cokelat caramel yang biasa dibelinya setiap kali berangkat sekolah. Seperti biasanya pula, ia meletakkan cokelat itu dikolong meja paling depan dekat pintu masuk di kelas XII IPA 6. Tak lupa juga ia juga menuliskan kalimat “Have a nice day…”  pada kerta yang diselipkan bersama cokelat itu. Pria itu, ketua OSIS tempatnya bersekolah yang menjadi alasannya melakukan hal itu. Sejauh ini dia hanya memperhatikan pria itu dari kejauhan, tidak ada keberanian di dalam dirinya untuk mengungkapkan perasaannya.”

Keempat, kita bisa memulai dengan ketegangan atau perasaan yang dialami oleh sang tokoh. Hal ini dapat menarik perhatian pembaca untuk bertanya-tanya apa sih yang sebenarnya terjadi pada hal yang dialami oleh tokoh yang kita tuliskan. Kita bisa memulai dengan mendeskripsikan perasaan yang dialami oleh tokoh kala itu dan memberikan sedikit gambaran tentang suasana yang dihadapi. Misal,

“Raihan sudah hampir dua setengah jam mondar-mandir di depan ruang ICU. Hatinya begitu gelisah. Tangannya tidak bisa ia letakkan sejenak untuk mengurangi ketengan yang dialaminya. Mulutnya berwarna kehitaman efek rokok yang dihisapnya, tidak bisa diam. Ia tidak berhenti untuk terus berdoa. Smar-samar matanya mulai terlihat seperti pantulan air dari kejauhan. Ia menunduk, kepalanya bergetar seiring dengan tumpahnya air mata dari kedua matanya yang mulai sayu. Ia tidak tahu apakah setelah pintu ICU dibuka, ibunya masih bisa diselamatkan atau kenyataan buruk yang harus diterimanya.

Kelima, cobalah untuk menceritakan setting atau latar dimana tokoh kamu berada. Settting yang baik pasti akan memberikan imajinasi yang kuat bagi pembaca sehingga dengan begitu pembaca dapat memahami atau menggambarkan setting yang kita gambarkan. Misalkan kita membuka cerita dengan tokoh yang sedang berada di cafe, kita bisa menunjukkan bukan menceritakan bagaimana keadaan cafe yang sedang dikunjungi. Kita bisa menunjukkan makanan, minuman, interior, suasana dan lain sebagainya. Contohnya seperti ini,

“Musim dingin mulai turun. Aku berada di tengah keramaian kota New York. Orang-orang diluar sana terlihat begitu nyaman dengan jaket tebal yang digunakannya. Bunyi klakson mobil dan alunan musik dari toko-toko dan cafe yang berderet di sepanjang jalan menambah riuh suasana tengah kota kala itu. Aku meneduh secangkir susu mocca yang kupesan. Aku sengaja menggenggam permukaan cangkirnya yang hangat dengan tangan telanjangku. Cafe ini sibuk sekali melayani pengunjung. Beberapa pelayan sedang berlalu lalang menanyakan pesanan pengunjung dan sebagian lagi ada yang membereskan gelas dan piring dari meja. Suara merdu dari penyanyi cafe di sudut ruangan terdengar begitu nyaman di pendengaranku. Selain hal itu, interior klasik bernuansa Prancis yang diangkat sebagai tema bangunan ini adalah alasanku untuk menjadikannya sebagai tempat favorit bersama dia yang sudah lima tahun bersamaku.

Well, itulah kelima tips yang baru bisa saya bagikan di sini semoga bermanfaat ya. Tetap semangat untuk menulis dan jangan pernah berhenti untuk mengexplore bakat yang kita punya ya! Terus berkarya, terus belajar dan berlatih. Dunia menugggu karyamu yang paling terkenal.  Cheer!
^^

Iklan

2 responses »

    • Coba dipikirkan storyline-nya dulu, apakah tentang percintaan? persahabatan? horror?
      Jika sudah jelas tentang storyline pasti akan mudah mencari atau menemukan temanya 🙂
      Tokohnya usia berapa?
      Mungkin kalau di bawah 14 tahun bisa masuk ke naskah anak-anak
      15 – 18 tahun bisa masuk ke teenlit, dan di atas itu bisa masuk romance atau metropop.
      Disebut romance kalau tema yang diangkat tentang cinta dan seejenisnya. 🙂
      semoga membantu ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s