Resensi Novel : My Blackberry Girlfriend

Standar

My Blackberry Girlfriend On Goodreads

Menarik. Itulah hal yang kali pertama terlintas di benak saya, saat melihat buku ini terpajang di rak buku bestseller di salah satu toko buku. Sejenak saya sempatkan membaca blurbs di bagian belakangnya. Alih-alih ada kalimat yang bertuliskan kalau novel ini adalah novel yang menggegerkan komunitas cyber karena ceritanya seperti kisah nyata – katanya. Sebenarnya, bukan alih-alih itu saya tertarik untuk membeli buku ini, karena novel cover novelnya yang juga menarik dna terkesan  “mahal”. Bukan hanya itu, disetiap pembelian buku ini, juga terdapat CD yang diselipkan, berisi lagu-lagu yang sesuai dengna cerita yang disajikan, semacam soundtrack dalam sebuah film-lah.  Terlebih ada band favorit saya yang masuk ke dalam list CD tersebut. Semakin tertariklah saya untuk memilikinya.

Alur

Berkisah tentang seorang pemuda bernama Martin. Singkat cerita, kala itu lagi heboh-hebohnya Blackberry (BB), sehingga si Martin ini tertarik untuk memiliki BB. Keinginan itu harus pupus karena ia baru saja dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, dan memilih untuk menjadi sebagai Sales Promotion Boy untuk sebuah mobil. Namun, teman dekatnya – Hendra, menawarkannya untuk membeli BB second milik seorang temannya. Martin pun memutuskan untuk memilikinya, hingga masalah mulai muncul. Dengan Blacberry ia dipertemukan dengan seorang perempuan bernama Angel, yang dikiranya salah seorang teman SMAnya. Keberadaan Angel bukan tanpa alasan, ia mengira kalau BB yang dipegang oleh Martin adalah milik Fendy, seorang pria yang menghamilinya dan meninggalkannya. Atas alasan itu pula, Angel tidak mau berhenti melepaskan Martin, dengan alih-alih akan melaporkannya ke polisi jika macam-macam. Kehidupan Martin berubah, ia seakan harus menuruti kemauan Angel, dalam hal apapun meskipun sangat terpaksa ia lakukan. Kemudian, Martin meminta bantuan Hendra untuk menemukan Fendy, hingga akhirnya mereka bertemu namun, Angel memilih untuk tidak menemui Fendy karena terlanjur sakit hati. Kebersamaan yang dijalani dengan Angel, Martin merasa memiliki simpati pada perempuan tersebut. Dan membuat Martin memiliki perasaan kepada Angel. Saya tidak akan menceritakan bagaimana endingnya, bagi saya, endingnya menarik meski seperti dibuat-buat.

Kelebihan

Bagi saya, cerita ini menyuguhkan cerita yang sangat menarik, dengan alih-alih “Blackberry” yang sedang booming kala itu, tidak heran jika buku ini best seller. Secara keseluruhan, cerita ini menggunakan POV pertama sehingga setiap emosi yang dirasakan si tokoh (Martin) sangat dirasakan oleh pembaca, setidaknya itulah yang saya rasakan. Saya, juga memiliki empati dan simpati sendiri terhadap tokoh Martin di sini, mungkin karena gaya bahasanya yang ringan dan kekinian sehingga membuat pembaca merasa enggan untuk tidak melanjutkan halaman berikutnya. Termasuk saya.

Kekurangan

Di beberapa bagian, ada adegan yang menurut saya aneh dan terkesan dibuat-buat. Seperti ketika Martin dijebloskan ke penjara karena tidak mau menuruti perintah Angel, namun yang akhirnya dikeluarkan karena ulah Angel yang menyuruh Om-nya yang tak lain seorang polisi. Selain itu, kekonsistenan POV pertama di novel ini menjadi berkurang karena diselipkan bagian yang menceritakan keadaan Angel dalam POV ketiga. Hal yang tidak masuk akal bukan, jika secara keseluruhan menggunakan POV pertama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s