Resensi Antologi : Dongeng Patah Hati

Standar
Curahan (Patah) Hati
Buku ini lahir dari event yang diadakan oleh Gagas Media. Saat itu ketika event berlangsung, saya tertarik untuk mengikuti event ini, namun selalu begitu, saya tidak pernah yakin sehingga dengan mudah mengabaikannya. Well, awalnya saya tidak tertarik untuk memiliki buku ini, hanya saja setiap kali saya pergi ke toko buku selalu saja, buku bernuansa galau ini eye catching sekali. Beberapa kali saya mengabaikan untuk tidak memilikinya namun, entahlah saya merasa sangat penasaran untuk membaca isi di dalamnya.
Storyline
 
Keseluruhan cerita berisi tentang patah hati, sesuai dengan tema yang diangkat. Empat belas cerpen bertema patah hati ini mampu membuat saya tertarik untuk melanjutkan membacanya hingga ke halaman-halaman berikutnya. Isi patah hati yang diceritakan di sini memiliki warna tersendiri, tentang cinta yang tidak pernah terucap, kehilangan hingga kerelaan untuk melepas. Semua hal berbau patah hati di ulas apik di buku ini.
Salah satu yang saya sukai dari cerita patah hati ini adalah cerita pendek berjudul Keberuntungan Kedua yang ditulis oleh Shelly Fw. Bagi saya cerita pendek yang ditulis oleh Shelly sangat menarik, berbentuk monolog. Cerita seperti ini baru kali pertama saya baca dan hasilnya saya sangat tertarik, sederhana dan tidak membosankan. Cerita yang disampaikan secara monolog ini lebih menyerupai catatan harian, pesan yang ingin disampaikan dapat ditangkap oleh pembaca dengan mudah.
Quote
“Kelak akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada kebahagiaan setelah tangis yang panjang.”
― Robin WijayaDongeng Patah Hati
“Terkadang takdir memang dapat disandingkan dengan keberuntungan.”
― Shelly FwDongeng Patah Hati
“Karena jatuh cinta tak pernah direncanakan…”
― Robin WijayaDongeng Patah Hati
“Aku memang kalah. Kalah pada rasa takut untuk mencintaimu.”
― Robin WijayaDongeng Patah Hati
“Sampai berapa lama biasanya kamu sanggup menunggu hujan reda? Sampai aku bisa melihat pelangi.”
― Robin WijayaDongeng Patah Hati
“Kadang… orang yang paling kita kasihi justru mengasihi orang lain.”
― Aveline AgrippinaDongeng Patah Hati
“Luka adalah pengejawantahan bahwa bahagia tidaklah kekal.”
― Aveline AgrippinaDongeng Patah Hati
Kelebihan
Antologi ini disajikan dengan tema yang tidak asing yaitu Patah Hati. Empat belas kisah patah hati ini menyajikan kisah yang sederhana, tidak dibuat-buat – meski ini merupakan cerita fiksi dan ada satu naskah yang berdasarkan kisah nyata, sehingga membuat saya merasa dekat dengan kehidupan para tokoh yang diceritakan. Setting yang digambarkan di antologi ini juga beraragam sehingga membuat saya sebagai pembaca bosan. Selain itu, beberapa cerita pendek yang menggunakan POV pertama membuat saya seperti mengalami sendiri konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh di buku ini.
Kekurangan
Beberapa cerpen disini mengunakan monolog sehingga hal ini membuat sebagian pembaca akan merasa asing dan bosan, namun saya sendiri tidak merasa hal ini membosankan. Selain itu ada pula cerita yang bertele-tele sehingga membuat saya ingin segera membuka lembar halaman selanjutnya, ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Cerita fiksi memang sering menjadi hal yang menarik, namun ada cerpen di dalam buku ini yang sepertinya memaksakan konflik yang tidak tepat untuk dijadikan sebagai ending.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s