#SeninMenulis “The Tool of Writing” oleh Peter Clark #2

Standar

Dalam #SeninMenulis pekan lalu, kita sudah membahas #5 teknik menulis ala Peter Clark. Masih ingat apa saja kelima teknik itu?

#13. Show first and then tell –> Prinsip utama dlm menulis fiksi, tunjukkan dan baru katakan
#14. Pilihlah nama-nama yang unik sebagai karakter dalam ceritamu (Roy Peter)
#16. Tambahkan sesuatu yang ganjil dan menarik dalam ceritamu.
#21. Tambahkan kutipan dan dialog pada ceritamu.
#23. Taruh koin-koin emas di sepanjang alur ceritamu.Yok kita lanjut ke poin selanjutnya …

#28. Write cinemattically –> Tulislah, seperti engkau hendak membuat film tentang novelmu. #SeninMenulis
Ubahlah mesin ketik/laptopmu menjadi seperti kamera. Pilih dan gunakan kata-kata yang bisa menangkap gambar dan imajinasi
Daripada menulis “Gadis itu cantik”, coba tulislah “Gadis remaja dengan rambut indah tergerai itu punya lesung pipi yang paling indah.”
Gunakan kata-kata yang bisa menggambarkan detail, anggap kamu sedang memindahkan adegan film ke dalam barisan kata-kata.
Bayangkan seandainya kamu bisa “menonton” cerita yang sedang engkau baca. Seperti itulah caranya. Detail, deskriptif, dan dramatis!

(a) Pandangan udara : Seperti burung, penulis “melaporkan” cerita dari arah atas. Mengamati dunia ibarat dewa
Misal: Orang-orang miskin mengantre pengampunan di depan Capitol. Tubuh kecil dan ringkih mereka tersaruk, bak kawanan semut tak berdaya.

(b) Penulis mencari posisi yang dekat dengan cerita, ia “melaporkan” cerita seperti reporter yg sedang siaran langsung
Contoh: Kabut mengepul pekat. Hanya dlm hitungan detik, semuanya tertutup kabut. Anya bahkan tidak bisa memandang telapak tangannya sendiri.

(c) Close-up, penulis menyorot dengan detail terjadinya cerita atau apa yg dialami si tokoh, termasuk emosinya
Misal: Miranda tidak kuat lagi. Kedua tangannya mengepal. Matanya melotot tajam sementara wajahnya semakin memerah. Sebentar lagi ia meledak

(d) Extreme close up, posisi penulis dekat sekali dengan cerita/karakter sampai-sampai ketahuan detail-detail kecil yg jarang tampak.
Misal: Bintik-bintik coklat di bawah mata itu, ditambah dengan lima kerutan keriput di dahi dan sekitar mata, jelas menunjukkan usia tuanya

Silakan digunakan 4 teknik “menangkap” adegan tersebut saat kamu menulis. Divariasikan ya biar pembaca tidak jenuh :))

#30 Tulislah ending yang menutup cerita, menjawab sebagian besar pertanyaan yang muncul selama berjalannya cerita.

Dari kecil, kita belajar bahwa ada akhir untuk setiap cerita. Pangeran dan putri hidup bahagia selamanya. Si penjahat kalah. Dunia damai.
“Salah satu cara berlatih menulis ending yang baik adalah dengan membaca buku-buku dengan ending yang baik.” (Peter Clark)
Pembaca mungkin tidak selalu menginginkan “ending yg membahagiakan,” tetapi mereka pasti menginginkan “ending yg memuaskan.” (Peter Clark)

Berikut ini 5 teknik mengakhiri cerita ala Peter Clark
(a) Ending yang menutup siklus cerita. Di ending, pembaca diajak kembali ke awal kisah atau ke tokoh sentral cerita. Jadi ceritanya berputar

Contoh  –> Titanic kali ya? Ada flashback trus di ending ceritanya balik lagi ke awal.

(b) Ending yg ditarik ke belakang. Endingnya kembali ke bagian paling menarik/unik dari cerita. Ini jenis ending tak terduga dan mengezutkan. Ada yg bisa kasih contoh cerita dengan ending seperti ini? Yang endingnya “kok gitu sih?”

(c) Ending yang dibatasi waktu. Jadi, penulis secara kronologis sudah menciptakan waktu berlangsungnya cerita, dari waktu A ke waktu Z.  Sepertinya Kisah-kisah dari Narnia masuk di sini. Cerita tamat dengan “kiamatnya” Narnia. Contoh lain?

(d) Ending terbatasi ruang, ceritanya berakhir ketika cerita/tokoh sampai ke tempat yg dituju, tdk perduli cepat/lambat durasi perjalanannya. Perjalanan Frodo cs ke Mordor kayaknya cocok untuk jenis ending ini.

(e) Ending yang menjawab semua. Misteri terpecahkan, pertanyaan dijawab, rahasia dikuak, musuh dikalahkan, dan tujuan perjalanan tercapai. Ending ke-5 inilah yg paling disukai pembaca. Ingat, ending tidak wajib selalu bahagia. Yg terpenting ending tersebut memuaskan pembaca. nah untuk ending jenis ini, adakah yang bisa menyaingi kepiawaian Tante Rowling dengan seri Harry Potternya? Sepertinya banyak sekali. Kita hanya harus lebih banyak membaca.

Gimana cara membuat ending yang memuaskan? Bacalah kisah-kisah dengan ending yang memuaskan.

NOTE : Original posted here by Diva Press

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s