Ketika Menjadi Introvert adalah Sebuah Pilihan

Standar

Sebagian besar, orang yang belum mengenal saya akan berpendapat bahwa saya adalah orang sombong. Begitulah memang kenyataannya. Pembawaan saya yang sungkan kepada orang yang baru saya kenal bahkan belum saya kenal, membuat anggapan itu begitu kental untuk saya. Memang saya orangnya jarang bicara dengan orang yang saya kenal bahkan dengan orang yang sudah saya kenal pun saya jarang berbicara karena memang prinsipnya saya yang introvert dan bukan menjadi speaker tetapi sebagai listener.

Hal itu setidaknya yang saya alami. Mungkin pengaruh trauma yang saya alami di masa lalu yang membuat saya tertutup terhadap orang baru. Trauma itu yang membuat saya enggan untuk terlalu berdekatan dengan orang yang baru saya kenal. Selain karena saya trauma karena ditinggal oleh sahabat dekat saya, saya juga malu dan lebih cenderung untuk tidak menjalin kedekatan karena nantinya pasti tidak akan dekat. Berbeda lagi jika sudah bicara kesamaan dan keklop-an.

Ketika saya pertama kali menjalani hari-hari sebagai anak kost, saya mencoba untuk membuka diri. Tetapi, kenyataannya saya seperti salah memilih tempat. Di sini, tempat saya “numpang tidur” selama menjalani kuliah hingga 1,5 tahun mendatang, saya menjaga diri sekali, jaim. Hal itu terjadi bukan tanpa alasan, pertama adalah karena memang teman-teman di sini individual tidak seperti yang saya rasakan di rumah sebelumnya. Hal inilah yang membuat saya bosan berada di sini, meskipun kini hal itu sudah berubah – namun tetap saya tidak bisa berubah.

Dan yang kedua adalah tidak adanya kesamaan dan kebersamaan di sini. Begini, di sini jika hanya dua orang yang dekat selamanya dua orang ini yang akan dekat dan tidak ada yang lain. Bahkan lebih parahnya lagi, ketika berpapasan pasti tidak akan menyapa satu sama lain. Aduh, saya sudah berusaha untuk kind tapi, hasilnya nihil. Nol besar.

Bagi saya, menjadi introvert di sini adalah sebuah pilihan, mengingat saya orangnya yang tidak senang diganggu, terlebih jika ada beberapa orang yang nongkrong di tempat saya. Sementara saya sendiri bukan tipe orang penongkrong yah, meskipun saya tahu hal itu adalah hal lumrah di tempat kost pria – bahkan wanita. Hal ini saya lakukan untuk meminimalisir gangguan yang ada, dan itu terbukti. Memang tidak nyaman menjadi seorang yang introvert tapi, bagaimana lagi pilihannya kalau memang cuma hanya ada itu saja?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s