BROKEN VOW

Gambar

            Aku tidak pernah menyangka rasa yang kuanggap biasa, memerangkapku pada sebuah kenyataan yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan. Cinta dan setia tidak selamanya akan berjalan beriringan. Cinta yang kujadikan sebagai hati kini entah menghilang dan berlabuh jauh di tempat yang tak pernah mau aku tahu. Sedangkan rasa yang kusebut setia itu masih ada di sini. Terkungkung dan akan terus tersimpan untuknya tanpa aku tahu sampai kapan akan berakhir.

***

            Malam mulai turun. Perlahan pendar dari cahaya lampu di gedung-gedung pinggiran sungai Paramatta mulai menampakkan pesonanya. Kapal Ferry yang berlalu lalang mulai menepi untuk menjemput pengunjung di dermaga-dermaga kecil tepian sungai. Sydney Harbour Bridge yang menjadi landmark kota Sydney juga tak kalah dengan Sydney Opera House yang mulai menarik perhatian kunjungan wisatawan luar negeri maupun warga lokal.

Sungai Paramatta, Sydney Horbour Bridge dan terlebih Sydney Opera House adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari kota Sydney. Sungai Paramatta yang begitu pintar memikat hati dengan pantulan sinar-sinar menyilaukannya di siang hari. Kegagahan jembatan Sydney Harbour yang menopang kecantikan sungai Paramtta dan Sydney Opera House dengan kemegawahannya yang tidak akan bisa terlewatkan begitu saja. Hal yang tak pernah kulewatkan beberapa tahun lalu denganmu, wanita yang kini kukenal sebagai bagian dari kisah masa laluku.

Aku sedang menulis tulisan-tulisan yang telah menjadi kebiasaanku. Mengejar deadline dibalik kesibukanku sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta di Sydney. Tak ada hal yang bisa kulakukan selain menulis di sini. Di kafe yang menjadi tempat ternyamanku sejak beberapa tahun yang lalu. Kesetiaanku pada cokelat hangat yang biasa kupesan dan pada kisah yang hingga kini masih kusimpan.

            Waktu itu, lima tahun yang lalu….

Kafe Sydney, sebuah kafe di pinggiran sungai Paramatta. Kafe paling romantis yang juga merupakan sebuah tempat yang menjadi bukti paling kuat tentang bagaimana rasa yang pernah kita punya menguar satu sama lain. Apa kamu masih ingat? Temaram lilin yang dipancarkan di balik meja dinner yang biasa kita lihat. Apa kamu juga masih ingat lantunan suara merdu dari penyanyi kafe yang selalu menyanyikan lagu yang kamu sukai? Dan juga komentarmu tentang jebatan Sydney Harbour yang selalu menjadi pemandangan paling menarik bagimu dari balik kursi yang kamu tempati.

Aku tidak tahu. Apakah saat ini kamu masih mengingatnya atau sudah benar-benar melupakannya. Di kafe ini, dulu aku tak pernah bosan mengusir lelahku. Aku masih ingat bagaimana caraku menunggumu di sini. Kupesan cokelat hangat dan laptop yang kunyalakan untuk menghabiskan waktu menanti kedatanganmu. Kutuliskan kisah-kisah yang singgah di dalam pikiran tentangku, tentangmu dan tentang orang lain.

Sorry, aku masih harus nyusun pembukan di kantor jadinya hari ini agak telat,” ucapmu sore itu setelah hampir setengah jam senja yang menembus langit kota Sydney  perlahan memudar membetuk garis-garis jingga.

“Nggak masalah, menunggu kamu adalah bagian dari kebiasaanku.” Balasku tanpa mengalihkan pandangan ke arahmu yang telah menyeduh cokelat hangat yang kupesan.

Entahlah aku tidak tahu. Beberapa hari terakhir sebelum pertemuan makan malam kita di kafe itu, aku merasakan hal yang lain darimu. Rindu yang kamu punya tak aku rasakan lagi sebagai hal yang kutunggu-tunggu darimu. Teduhnya biru bola matamu juga tak lagi aku temui.

“Kok kamu mendadak dingin sih?” balasmu saat kamu menyadari seolah-olah aku tak menghiraukan kehadiranmu saat itu.

“Lebih baik seperti ini daripada harus bersembunyi dibalik bubungan kita,”

Kamu menatapku, keningmu menegerut heran dan aku melihat bibir mungilmu yang kian merasa tidak mengerti apa yang aku katakan, “Maksudmu apa?”

“Jangan pikir aku nggak tahu ke mana kamu selama ini, Key! Kamu punya affair di belakangku, aku nggak sebodoh yang kamu pikirkan.”

“Handi, aku dengan Bagas nggak ada hubungan apa-apa. Dia sahabat aku di Indonesia.”

“Dengan cara menatap yang begitu dalam, hubungan yang sangat dekat dan pertemuan yang sering kamu lakukan di belakang aku, apa itu yang kamu sebut sahabat?” cecarku tak mau kalah.

Matamu memerah. Sesekali kamu menutup mulutmu yang bergetar perlahan, menahan emosi yang tidak ingin kamu pecahkan saat itu. Tapi, air mata yang keluar dari kedua bola matamu tak bisa kamu taklukkan, “Aku nggak tahu harus jelasin bagaimana lagi supaya kamu percaya. Semua terserah kamu.”

Kamu beranjak dari hadapanku. Meninggalkanku sendiri. Aku tidak bisa menahanmu untuk bertahan kala itu. Hati dan pikiranku telah di remukkan oleh rasa cemburu yang berlebihan. Maafkan sikapku saat itu, aku hanya tidak ingin kamu pergi dari kehidupanku bersama orang lain.

continued….

Itulah cuplikan dari cerpen yang saya kirimkan pada lomba menulis yang diadakan oleh Luetika Prio sekitar sebulan yang lalu, jika ingin melanjutkan seperti bagaimana kelanjutan kisah di atas, bisa dibeli buku Antologi-nya yang akan terbit beberapa waktu mendatang. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s