Monthly Archives: Januari 2014

Resensi Novel : Hujan dan Teduh

Standar

Hujan dan Teduh on Goodreads

Hujan dan Teduh. Yang pertama kali saya komentari adalah covernya yang manis dan benar-benar teduh. Dua kupu-kupu kertas dan beberapa tangkai daun serta tetesan air membuat ilustrasi cover novel ini sangat “masuk” dengan judul novelnya. Well, sebenarnya sudah lama sekali saya mencari buku ini hanya saja saya beru mendapatkannya awal 2014 ini. Alasan saya ingin mendapatkan novel ini ialah, pensaran dengan cerita yang ditulis di novel yang menjadi juara pertama dalam event kepenulisan 100% Roman Asli Indonesia. Sehingga novel ini bisa saya jadikan referensi untuk event-event kepenulisan selanjutnya.

Sinopsis

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.
Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka.

Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup. 

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.
Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan….

Alur

Dalam novel ini digunkan alur campuran, alur maju dan flashback. Meskipun awalnya cukup membingungkan namun, semakin membuka halaman-halaman selanjutnya saya semakin mengerti apa yang ingin disampaikan oleh si penulis. Bercerita tentang kehidupan tak biasa Bintang Dewatra yang menjalin hubungan dengan Kaila, teman sekolahnya ketika mereka duduk di bangku SMA. Pada kisah SMA ini, penulis menuliskannya dengan menggunakan alur mundur atau flashback di jelaskan bagaimana Bintang dan Kaila memulai hubungan hingga akhirnya mereka menjadi pasangan kekasih.

Sementara itu, pada alur maju menceritakan kehidupan Bintang ketika duduk di bangku kuliah. Mulai dari perkenalannya dengan Noval, hingga bagaimana Bintang menjalin hubungan dengan Noval. Tidak mudah bagi Bintang menjalani hubungannya dengan Noval. Banyak masalah yang harus dihadapi oleh Bintang, termasuk ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Noval. Di bagian ini, penulis berhasil membuat saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena memang cerita yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti serta pembagian plot yang pintar sehingga membuat bagian di dalam novel ini memiliki kesan tersendiri dengan dibaginya permasalahn-permasalahan yang di alami tokoh di dalam novel.

Jangan tanyakan ending-nya seperti apa. Bagi saya membaca novel ini seperti baru saja mendengarkan curahan hati seseorang tentang kisah masa lalu dan masalah-masalah yang dihadapinya saat ini. Di bagian ending saya rasa penulis berhasil membuat pembaca – termasuk saya – merasa lega karena menemukan penyelesaian atau resolusi yang memuaskan, seperti baru saja mendapat jalan keluar sebuah masalah yang rumit.

Kelebihan 

Novel ini berbeda dengan novel kebanyakan yang saya baca. Perpaduan dua alur yang digunakan membuat pembaca seolah “dihidangkan” dua kisah serupa tapi tak sama dari tokoh Bintang, yaitu kisah cinta di masa SMA dan kuliahnya. Selain itu pembagian plot yang rapi dengan menebarkan konflik di hampir setiap bagian di novel ini sukses membuat saya ingin segera tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh si tokoh untuk terlepas dari konflik yang dihadapinya.

Kekurangan

Plot atau alur yang tidak biasa seperti novel kebanyakan memang memiliki resiko. Saya, sebagai pembaca merasa kebingungan dengan alur yang dituliskan di awal-awal cerita. Selain itu saya juga agak merasa risih dengan pendiskripsian – setting dan lain sebagainya –  yang beberapa kali ditulis oleh penulis terasa kurang ngeh untuk dibaca sehingga membuat pembaca harus mencerna tulisan itu lagi, dengan membaca ulang beberapa paragraf.

 

Iklan

Ketika Kamu Jenuh Menulis

Standar

signoflove,letter,love,heart,potentialprojects-8d5d30b26e9a9b49d8dda382d37d24d6_h

Kali ini saya akan menulis tentang bagaimana perasaan saya ketika menghadapi kejenhan dalam menulis. Memang menjadi penulis itu nggak semudah yang kita pikirkan, punya ide, menulis, kirim ke penerbit dan diterbitkan. Masih ada banyak “perjalanan” panjang yang akan mewarnai prosesnya.

Kekakuan Dalam Menulis

Saya sudah hampir sekitar enam tahun tidak menulis novel. Hal itu terjadi karena niat dari dalam diri saya untuk meneruskan menulis novel itu masih sangat minim. Saya hanya hobi membuat outline dan deadline yang terlalu sering saya abaikan. Bahkan, saya pernah mengabaikannya hingga setahun kemudian tanpa hasil. Meski saya sudah melakukan riset untuk novel yang akan saya tulis. Saran saya adalah ketika kita sudah melakukan survei, membuat outline dan deadline ada baknya kita segera menuliskannya dalam bentuk cerita supaya ide yang kita pikirkan tidak terlalu lama di otak sehingga membuat kita susah untuk melanjutkannya. Latihlah dengan menulis apapun setiap hari untuk membuat tulisan kita tidak kaku.

Saat Jenuh Melanda

Ada kalanya ketika kita semangat untuk menulis namun kita merasa jenuh dengan apa yang kita tulis. Mulai dari adegan yang kurang, cerita yang nggak nyambung dari adegan pertama dan kedua hingga percakapan tokoh yang terkadang membuat kita mengerutkan dahi karena tidak adanya keinteraktifan dakam dialognya sehingga melenceng dari apa yang ingin kita tuliskan. Bahkan juga mungkin kita tidak tahu harus menuliskan adegan apalagi di tulisan yang kita tulis. Saya mengalami ini semalam, yang saya lakukan ialah saya terus menulis entahlah meski sepertinya hanya dialog saja yang saya tuliskan saya tetap menulis. Lalu, saya menambahkan beberapa adegan yang tisak saya pikirkan apa yang akan dilakukan tokohnya di adegan tersebut. Pokoknya saya tulis. Nekad, iya. Sebab, kegiatan yang saya lakukan adalah menulis bukan mengedit atau merevisi. Hal itu yang harus saya lakukan karena nantinya tulisan itu harus saya revisi dan diedit agar isinya lebih nyata dan hidup serta terhindar dari ketidaknyambungan antar kalimat, antardialog dan antaradegan.

Jauhi Hal YangMengganggu

Banyak hal yang membuat kita nggak mood untuk menulis. Entah itu karena faktor eksternal seperti lingkungan yang berisik dan tidak kondusif atau faktor internal dari dalam dri kita sendiri seperti malas, capek dan berbagai alasan tak masuk akal lainnya. Saya selalu mematikan musik di laptop ketika saya menulis. Bagi saya lagu yang diputar akan sangat menganggu saya untuk menulis. Saya juga suka mandi ketika malas itu datang, biasanya hal ini terjadi ketika saya menulis sepulang kuliah di sore hari dimana badan lagi capek btuh penyegaran. Dan, biasanya saya menulis dengan syarat tidak adanya pengamggu dan jauh dari kebisingan atau keramaian. Itu cara saya mendapatkan waktu dan cara yang tepat untuk menulis. Setiap penulis tidak memiliki gangguan yang sama. Jadi, mendengarkan musik sambil menulis mungkin bisa menjadi pilihan menyenangkan untuk sebagain penulis tapi untuk sebagian lainnya hal itu sangat mengganggu.

Itulah sedkit pengalaman yang bisa saya tuliskan di sini. Jika memiliki masukan dan saran yang menarik untuk tulisan ini, bisa dituliskan di kolom komentar.

Happy writing, huys!